Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENATAP Bulan saat purnama atau gerhana adalah hobi bagi banyak orang. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya apakah penduduk di belahan Bumi lain melihat wajah Bulan yang persis sama dengan yang Anda lihat? Jawabannya mengejutkan, tidak.
Meskipun kita semua menatap objek langit yang sama, penampakan Bulan berubah tergantung di mana Anda berdiri. Astronom menjelaskan hal ini murni masalah perspektif.
Perbedaan paling mencolok terjadi jika kita membandingkan pandangan dari Kutub Utara dan Kutub Selatan. Di Kutub Utara, kawah Tycho yang ikonik akan terlihat di bagian bawah wajah Bulan. Sebaliknya, jika Anda berdiri di Stasiun Amundsen-Scott di Kutub Selatan, kawah tersebut justru muncul di bagian atas.
"Bagaimana kita melihat Bulan dan bintang-bintang semuanya adalah masalah perspektif," ujar Pamela Gay, ilmuwan senior di Planetary Science Institute, dalam penjelasannya kepada Live Science.
Fenomena ini juga menciptakan ilustrasi yang unik. Di Illinois, Amerika Serikat, orang mungkin melihat pola "manusia di Bulan" yang tegak. Namun, bagi pengamat di Sydney, Australia, "Bulan kini tampak seperti kelinci yang melompat ke bawah," tambah Gay.
Meski orientasinya tampak berputar atau terbalik, secara fisik kita semua tetap melihat sisi Bulan yang itu-itu saja. Hal ini terjadi karena fenomena synchronous rotation atau rotasi sinkron, di mana Bulan menyelesaikan satu putaran pada porosnya dalam waktu yang sama dengan waktu yang dibutuhkannya untuk mengorbit Bumi sekali.
Selain posisi kawah, fase Bulan juga terlihat berbeda. Di belahan Bumi utara, fase Bulan tumbuh dan menyusut dari kanan ke kiri. Sebaliknya, di belahan selatan, proses ini terjadi dari kiri ke kanan.
Kondisi paling menarik terjadi di garis khatulistiwa, termasuk Indonesia. Di wilayah ekuator, Bulan sabit sering kali terlihat horizontal, menyerupai bentuk perahu yang sedang mengapung di langit. Catherine Miller, pakar dari Observatorium Mittelman, menjelaskan bahwa hal ini dipengaruhi oleh bagaimana posisi horizon lokal selaras dengan posisi Bumi, Bulan, dan Matahari.
Di lokasi tertentu, wajah Bulan bahkan tampak berputar hingga 180 derajat dalam satu malam saat ia melintasi langit. Miller menjelaskan bahwa ini bukan karena Bulannya yang berputar, melainkan karena pergerakan pengamat.
Di khatulistiwa, Bulan sering melintas tepat di atas kepala (zenith). Saat terbit di timur, Anda menghadap ke satu arah, namun saat terbenam di barat, Anda harus memutar tubuh 180 derajat untuk mengikutinya. Perubahan posisi tubuh inilah yang membuat wajah Bulan seolah-olah "terguling" di langit.
Jadi, saat Anda bepergian ke luar negeri atau lintas benua nanti, jangan lupa menengok ke atas. Wajah Bulan yang Anda kenal mungkin akan menyapa dengan cara yang sangat berbeda. (Live Science/Z-2)
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
Peneliti ungkap bagaimana materi gelap membantu pembentukan lubang hitam supermasif di awal semesta, memecahkan misteri temuan teleskop James Webb.
Astronom berhasil memetakan Supercluster Vela yang selama ini tersembunyi. Memiliki massa 30 kuadriliun matahari, struktur ini jadi salah satu objek terbesar di alam semesta.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
Asteroid 99942 Apophis akan melintas sangat dekat ke Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan tidak ada ancaman tabrakan dalam 100 tahun ke depan.
Okultasi asteroid Strenua akan terjadi 26 April 2026 pukul 19.41 WIB. Fenomena “gerhana bintang” ini langka dan dapat diamati dari Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved