Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA bertahun-tahun, para astronom dibuat bingung oleh fenomena melambatnya pertumbuhan lubang hitam terbesar di alam semesta dalam 10 miliar tahun terakhir. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam The Astrophysical Journal akhirnya memberikan jawaban atas teka-teki astrofisika tersebut: lubang hitam kini sedang "kelaparan" gas.
Lubang hitam supermasif (Supermassive Black Holes atau SMBH) memiliki daya tarik gravitasi luar biasa yang memungkinkan mereka tumbuh jutaan hingga miliaran kali massa matahari. Pada beberapa miliar tahun pertama setelah Big Bang, pertumbuhan ini terjadi sangat cepat. Namun, laju tersebut merosot tajam sejak periode yang disebut "Cosmic Noon", saat alam semesta baru berusia kurang dari seperempat dari usianya saat ini.
Penelitian yang melibatkan data dari teleskop sinar-X ternama seperti Chandra milik NASA, XMM-Newton (ESA), dan eROSITA ini menguji beberapa hipotesis. Apakah jumlah lubang hitam yang aktif berkurang? Atau apakah ukuran mereka memang lebih kecil sehingga kurang rakus?
Ternyata, penyebab utamanya adalah menipisnya ketersediaan materi untuk dikonsumsi. Fan Zou, astronom dari University of Michigan sekaligus rekan penulis studi, menjelaskan bahwa individu lubang hitam kini mengonsumsi materi jauh lebih lambat.
"Kami tahu lubang hitam tumbuh lebih lambat, tetapi tidak tahu mengapa, dan ternyata lubang hitam secara individu mengonsumsi material jauh lebih tidak cepat, daripada sekadar jumlah lubang hitam yang tumbuh lebih sedikit atau lebih kecil," ujar Fan Zou.
Para peneliti menganalisis pengamatan multi-panjang gelombang terhadap 1,3 juta galaksi dan 8.000 SMBH yang aktif menyemburkan sinar-X. Hasilnya menunjukkan konsumsi lubang hitam melambat seiring berkurangnya jumlah gas dingin di alam semesta sejak era Cosmic Noon.
Neil Brandt, astrofisikawan dari Penn State, memperkirakan penurunan laju pertumbuhan ini mencapai faktor 22 kali lipat. "Meskipun studi ini tidak membahas pertumbuhan cepat lubang hitam yang membingungkan di awal alam semesta, ia melakukan tugas terbaik sejauh ini dalam menjelaskan 75% sisa waktu kosmik," tambahnya.
Data menunjukkan bahwa populasi lubang hitam supermasif sebenarnya sudah hampir menetap sejak 7 miliar tahun yang lalu. Kecil kemungkinan akan muncul populasi SMBH baru yang tumbuh signifikan di masa depan.
"Kami tidak berharap banyak SMBH muncul dan tumbuh secara signifikan di masa depan," kata Zou. Riset ini mengonfirmasi bahwa era pertumbuhan liar lubang hitam raksasa kini telah menjadi bagian dari sejarah masa lalu alam semesta. (Live Science/Z-2)
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
Peneliti ungkap bagaimana materi gelap membantu pembentukan lubang hitam supermasif di awal semesta, memecahkan misteri temuan teleskop James Webb.
Astronom berhasil memetakan Supercluster Vela yang selama ini tersembunyi. Memiliki massa 30 kuadriliun matahari, struktur ini jadi salah satu objek terbesar di alam semesta.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
Asteroid 99942 Apophis akan melintas sangat dekat ke Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan tidak ada ancaman tabrakan dalam 100 tahun ke depan.
Okultasi asteroid Strenua akan terjadi 26 April 2026 pukul 19.41 WIB. Fenomena “gerhana bintang” ini langka dan dapat diamati dari Indonesia.
Penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan SMBH mencapai puncaknya pada periode yang disebut cosmic noon, yakni sekitar 9,5 hingga 10,5 miliar tahun lalu
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved