Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda membayangkan seberapa besar sebuah planet bisa tumbuh sebelum ia berubah menjadi bintang? Pertanyaan mendasar dalam astronomi ini akhirnya mendapatkan titik terang baru pada awal 2026. Melalui pengamatan mendalam Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan NASA menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Laporan terbaru yang dirilis melalui jurnal Nature Astronomy pada Senin (9/2/2026) mengungkapkan hasil observasi terhadap sistem bintang HR 8799. Temuan ini menantang pemahaman kita mengenai garis pemisah antara planet raksasa dan katai cokelat (brown dwarf), objek yang sering dijuluki sebagai "bintang gagal".
Selama beberapa dekade, astronom memegang teori akresi inti (core accretion) sebagai standar pembentukan planet. Dalam proses ini, debu dan material padat di piringan protoplanet perlahan menggumpal membentuk inti yang masif. Setelah massa inti mencapai titik kritis, ia akan mulai menyedot gas di sekitarnya dengan sangat cepat.
Namun, muncul sebuah perdebatan besar: Apakah proses ini efektif untuk menciptakan planet dengan massa 5 hingga 10 kali lipat Jupiter, terutama di orbit yang sangat jauh dari bintang induknya? Di wilayah terluar sistem bintang, material biasanya terlalu tipis untuk mendukung pembentukan planet raksasa secara perlahan.
| Karakteristik | Planet Raksasa Gas (Jupiter) | Planet di Sistem HR 8799 |
|---|---|---|
| Massa Estimasi | 1 Massa Jupiter | 5 - 12 Massa Jupiter |
| Metode Pembentukan | Akresi Inti | Terbukti Akresi Inti (Temuan JWST) |
| Jarak dari Bintang | Dekat (5.2 AU) | Sangat Jauh (Orbit Luar) |
Tim peneliti yang dipimpin oleh Jean-Baptiste Ruffio menggunakan instrumen spektrograf inframerah pada JWST untuk mencari bukti fisik mekanisme pembentukan tersebut. Mereka fokus mencari molekul hidrogen sulfida di atmosfer planet HR 8799 c.
Mengapa sulfur begitu penting? Sulfur adalah elemen yang biasanya terikat pada butiran padat di piringan protoplanet. Jika sebuah planet kaya akan sulfur, itu adalah bukti kuat bahwa planet tersebut "memakan" banyak material padat selama masa pertumbuhannya—sebuah ciri khas dari mekanisme akresi inti.
Hasilnya mengejutkan. Deteksi hidrogen sulfida di atmosfer HR 8799 c membuktikan bahwa objek masif ini terbentuk seperti planet biasa, bukan melalui keruntuhan awan gas mendadak seperti proses lahirnya bintang. Ini berarti, batasan mengenai seberapa besar planet bisa tumbuh secara bertahap kini harus dikalibrasi ulang.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi klasifikasi objek langit. Selama ini, objek dengan massa di atas 13 kali Jupiter seringkali langsung dikategorikan sebagai katai cokelat karena kemampuannya melakukan fusi deuterium. Namun, jika mekanisme akresi inti bisa menghasilkan objek yang sangat masif, maka perbedaan antara planet dan bintang gagal menjadi semakin kabur.
Penelitian ini membuktikan bahwa alam semesta jauh lebih kreatif dalam membentuk dunia-dunia baru daripada yang kita duga. Dengan teknologi JWST, kita kini mulai memahami bahwa "raksasa" di luar sana mungkin memiliki sejarah kelahiran yang serupa dengan Jupiter di tata surya kita sendiri.
Hingga saat ini, beberapa eksoplanet seperti GQ Lupi b dan ROXs 42Bb tercatat memiliki massa yang sangat besar, namun klasifikasinya sering diperdebatkan antara planet atau katai cokelat. (Space/H-3)
hingga saat ini belum teknologi yang mampu untuk menghitung jarak orbit secara presisi untuk mengetahui berapa lama pergi ke planet lain.
Banyak orang mengira bintang benar-benar berkelip atau berubah-ubah cahaya. Namun, faktanya tidak demikian. Dilansir dari laman Online Star Register, efek berkelip tersebut bukan berasal
Ternyata bintang tidak benar-benar berkelip. Fenomena scintillation atmosfer inilah yang menyebabkan cahaya bintang tampak bergetar dan berubah warna.
Perubahan definisi sains umumnya memerlukan perdebatan panjang dan pemungutan suara oleh para ilmuwan dari seluruh dunia, bukan melalui perintah eksekutif.
Suhu permukaannya diperkirakan mencapai 1.900 derajat Celsius, yang cukup panas untuk melelehkan batuan menjadi lautan magma global yang membentang hingga ribuan kilometer
Pada 28 Februari, enam planet akan muncul sesaat setelah matahari terbenam. Enam planet tersebut, yaitu Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter.
Astronom temukan bukti adanya bulan baru di Uranus melalui pengamatan cincin biru dan merah yang misterius.
Astronom lewat teleskop James Webb temukan planet baru L 98-59 d. Planet lava ini berbau telur busuk dan membuka kategori baru dalam ilmu astronomi.
Objek ini mendapatkan julukan yang cukup mengerikan, yaitu Exposed Cranium Nebula atau Nebula Tengkorak Terbuka.
NASA memastikan asteroid 2024 YR4 tidak akan menghantam Bulan pada 2032 setelah pengamatan terbaru Teleskop James Webb. Simak detail lintasan amannya di sini.
TELESKOP Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved