Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMATAN terbaru terhadap sistem cincin Uranus mengungkap fakta yang jauh lebih misterius dari dugaan para astronom selama ini. Berdasarkan data terbaru, sifat aneh pada dua cincin terluarnya mengindikasikan adanya aktivitas kompleks yang melibatkan bulan-bulan kecil yang belum ditemukan.
Tidak seperti cincin Saturnus yang megah dan terang, cincin Uranus sangat redup dan sulit dideteksi. Sejauh ini, total ada 13 cincin yang telah diidentifikasi. Namun, dua cincin terluar yang dikenal sebagai cincin mu dan cincin nu menjadi fokus utama karena perbedaan sifatnya yang mencolok.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Imke de Pater dari University of California, Berkeley, menggabungkan data inframerah dari Teleskop Luar Angkasa James Webb dengan data lama dari Hubble dan Observatorium Keck. Hasilnya, mereka berhasil menghasilkan spektrum reflektansi lengkap pertama dari cincin tersebut.
Diketahui cincin mu berwarna biru, sedangkan cincin nu berwarna kemerahan. Dalam dunia astronomi, warna biru menunjukkan keberadaan partikel yang sangat kecil, sementara warna merah mengindikasikan keberadaan debu.
"Dengan mengurai cahaya dari cincin-cincin ini, kita dapat melacak distribusi ukuran partikel dan komposisinya, yang memberikan kejelasan tentang asal-usul mereka, menawarkan wawasan baru tentang bagaimana sistem Uranus dan planet sejenisnya terbentuk dan berevolusi," ujar de Pater dalam sebuah pernyataan.
Analisis menunjukkan cincin mu tersusun dari partikel es air. Di tata surya kita, hanya ada satu cincin biru lain yang serupa, yaitu cincin E milik Saturnus yang dihasilkan oleh aktivitas geyser di bulan Enceladus. Partikel es di cincin mu Uranus ini telah dilacak sumbernya ke sebuah bulan kecil bernama Mab. Namun, mengapa Mab sangat kaya akan es dibandingkan bulan-bulan di sekitarnya yang berbatu masih menjadi tanda tanya besar.
Di sisi lain, cincin nu justru jauh lebih "kotor". Komposisinya mengandung 10 hingga 15% senyawa organik kaya karbon. Peneliti menduga material cincin nu berasal dari debu yang terlempar akibat tabrakan mikrometeorit pada benda-benda berbatu tak terlihat (bulan kecil) yang mengorbit di antara bulan-bulan yang sudah dikenal.
"Satu pertanyaan menarik adalah mengapa benda-benda induk yang menjadi sumber cincin-cincin ini memiliki komposisi yang sangat berbeda," tambah de Pater.
Selain komposisi yang berbeda, terdapat petunjuk bahwa kecerahan cincin mu mengalami perubahan halus yang belum dipahami maknanya. Mengingat ukuran bulan-bulan ini sangat kecil dan redup, para ahli menyimpulkan bahwa pengamatan dari Bumi tidak lagi cukup.
"Saya menduga kita akan membutuhkan gambar jarak dekat dari misi wahana antariksa masa depan ke Uranus untuk menjawab pertanyaan itu," kata Mark Showalter dari SETI Institute.
Kabar baiknya, misi menuju planet es raksasa ini telah menjadi prioritas utama dalam survei terbaru National Academy of Sciences, meskipun pelaksanaannya masih bergantung pada ketersediaan pendanaan. Hasil studi ini telah diterbitkan pada 16 April di Journal of Geophysical Research: Planets. (Space/Z-2)
Pengamatan terbaru teleskop James Webb ungkap permukaan bulan-bulan kecil Uranus yang lebih merah, lebih gelap, dan miskin air dibandingkan satelit besarnya, serta menemukan satu bulan baru.
Miranda, bulan Uranus, diduga menyimpan samudra cair di bawah permukaan esnya.
Uranus dikenal sebagai “planet miring” karena sumbunya yang ekstrem. Simak fakta menarik tentang planet ini.
Astronom lewat teleskop James Webb temukan planet baru L 98-59 d. Planet lava ini berbau telur busuk dan membuka kategori baru dalam ilmu astronomi.
Objek ini mendapatkan julukan yang cukup mengerikan, yaitu Exposed Cranium Nebula atau Nebula Tengkorak Terbuka.
NASA memastikan asteroid 2024 YR4 tidak akan menghantam Bulan pada 2032 setelah pengamatan terbaru Teleskop James Webb. Simak detail lintasan amannya di sini.
TELESKOP Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved