Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MATAHARI kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan setelah melepaskan semburan energi kuat yang dikenal sebagai flare kelas X4.2 pada awal Februari 2026. Peristiwa ini terpantau oleh sejumlah observatorium antariksa dan menjadi perhatian para ilmuwan dari NASA serta Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) karena potensinya memengaruhi kondisi cuaca antariksa di sekitar Bumi.
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari. Berdasarkan sistem klasifikasi, flare dibagi menjadi kelas A, B, C, M, dan X, dengan kelas X sebagai yang paling kuat. Angka 4.2 menunjukkan intensitas flare tersebut berada 4,2 kali di atas ambang dasar kelas X. Flare dengan kekuatan ini mampu memancarkan sinar-X dan radiasi ultraviolet dalam jumlah besar ke ruang angkasa.
Menurut NASA, flare X4.2 ini berasal dari wilayah aktif Matahari yang memiliki struktur medan magnet kompleks. Wilayah tersebut sebelumnya telah menghasilkan beberapa flare kelas menengah hingga kuat, menandakan fase aktif dari siklus Matahari yang sedang berlangsung. Siklus Matahari sendiri berlangsung sekitar 11 tahun dan ditandai dengan naik turunnya aktivitas seperti bintik Matahari, flare, serta lontaran massa korona.
NOAA menjelaskan bahwa dampak langsung flare seperti ini dapat dirasakan di Bumi dalam hitungan menit. Radiasi elektromagnetik bergerak dengan kecepatan cahaya dan dapat meningkatkan ionisasi di lapisan ionosfer. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan komunikasi radio gelombang pendek, terutama di wilayah Bumi yang sedang mengalami siang hari saat flare terjadi. Sistem navigasi berbasis satelit juga dapat terdampak sementara.
Meski demikian, para ilmuwan mencatat bahwa flare X4.2 ini tidak disertai indikasi kuat terjadinya lontaran massa korona besar yang mengarah langsung ke Bumi. Lontaran massa korona atau coronal mass ejection merupakan faktor utama yang dapat memicu badai geomagnetik serius. Tanpa adanya lontaran tersebut, risiko gangguan besar pada jaringan listrik dan satelit dinilai relatif rendah.
NASA dan NOAA terus memantau Matahari menggunakan instrumen seperti Solar Dynamics Observatory dan satelit pemantau cuaca antariksa lainnya. Pemantauan ini penting untuk memahami dinamika aktivitas Matahari sekaligus memberikan peringatan dini jika terjadi peristiwa yang berpotensi berdampak besar bagi teknologi dan aktivitas manusia di Bumi.
Sumber: NASA Solar Dynamics Observatory, NASA Science - Solar Cycle, NOAA Space Weather Prediction Center
NASA mendukung misi European Space Agency ExoMars. Rover Rosalind Franklin ditargetkan meluncur 2028 untuk mencari jejak kehidupan di Mars.
NASA mempercepat ambisi ke Bulan lewat proyek MoonFall. Empat drone "hopper" akan dikirim untuk memetakan Kutub Selatan Bulan sebelum pendaratan astronot 2028.
Keempat astronot yang terdiri dari Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen.
Rover Curiosity NASA menemukan molekul organik kompleks di Kawah Gale, Mars. Temuan ini memperkuat kemungkinan adanya bahan penyusun kehidupan di masa lalu.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
NASA telah resmi mengumumkan penugasan empat kru dari tiga agen antariksa berbeda untuk menjalankan misi SpaceX Crew-13.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved