Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Perdebatan panjang para astronom mengenai apa yang sebenarnya tersembunyi di bawah lapisan awan tebal Jupiter akhirnya menemui titik terang. Sebuah studi yang dirilis di The Planetary Science Journal mengungkapkan bahwa raksasa gas tersebut memiliki kandungan oksigen dan air yang jauh lebih melimpah daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Penelitian yang dipimpin oleh Jeehyun Yang dari University of Chicago, bekerja sama dengan Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, menggunakan simulasi komputer generasi terbaru yang menggabungkan dinamika kimia dan pergerakan gas (hidrodinamika). Hasilnya mengejutkan, Jupiter mengandung oksigen sekitar 1 hingga 1,5 kali lebih banyak dibandingkan Matahari.
Sejak wahana Galileo milik NASA terjun ke atmosfer Jupiter pada tahun 1995, para ilmuwan kebingungan karena data saat itu menunjukkan atmosfer yang sangat kering. Namun, para peneliti kini menyadari bahwa Galileo kemungkinan besar masuk ke wilayah "titik panas" yang tidak mewakili komposisi planet secara keseluruhan.
Oksigen di Jupiter tidak berbentuk gas murni, melainkan terikat dalam molekul air (H_2O). Karena suhu yang sangat dingin di lapisan luar, air tersebut membeku menjadi es dan terperangkap jauh di bawah zona yang bisa diamati secara visual.
Dengan model simulasi 2D yang baru, ilmuwan mampu melacak bagaimana karbon monoksida bertindak sebagai pelacak untuk menentukan jumlah total oksigen yang bersembunyi di kedalaman planet tersebut.
Selain masalah kandungan air, studi ini mengungkap fakta baru mengenai perilaku atmosfer Jupiter. Gerakan vertikal gas di lapisan dalam ternyata 35 hingga 40 kali lebih lambat dari asumsi sains selama ini.
"Dibutuhkan waktu berminggu-minggu, bukan jam, bagi molekul gas untuk berpindah antar lapisan atmosfer Jupiter," ungkap Jeehyun Yang dalam laporan resminya. Temuan ini mengubah cara pandang ilmuwan mengenai bagaimana panas dan badai raksasa, seperti Bintik Merah Besar, berinteraksi dengan struktur internal planet.
Temuan ini bukan sekadar angka statistik. Kelimpahan oksigen merupakan "sidik jari" yang menunjukkan di mana dan bagaimana Jupiter terbentuk miliaran tahun lalu. Kandungan oksigen yang tinggi (supersolar) memperkuat teori bahwa Jupiter lahir di wilayah yang sangat dingin di luar garis salju (frost line), di mana ia bisa menyerap material es dalam jumlah besar.
Memahami komposisi Jupiter adalah kunci untuk memahami sejarah seluruh Tata Surya, mengingat massa raksasanya sangat memengaruhi orbit planet-planet lain, termasuk Bumi.
Sumberi: Space.com, University of Chicago News, IFLScience
NASA mendukung misi European Space Agency ExoMars. Rover Rosalind Franklin ditargetkan meluncur 2028 untuk mencari jejak kehidupan di Mars.
NASA mempercepat ambisi ke Bulan lewat proyek MoonFall. Empat drone "hopper" akan dikirim untuk memetakan Kutub Selatan Bulan sebelum pendaratan astronot 2028.
Keempat astronot yang terdiri dari Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen.
Rover Curiosity NASA menemukan molekul organik kompleks di Kawah Gale, Mars. Temuan ini memperkuat kemungkinan adanya bahan penyusun kehidupan di masa lalu.
Asteroid Apophis akan melintas dekat Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan aman, sekaligus jadi peluang langka untuk penelitian kosmik.
NASA telah resmi mengumumkan penugasan empat kru dari tiga agen antariksa berbeda untuk menjalankan misi SpaceX Crew-13.
Tanpa keseimbangan sempurna dari elemen-elemen ini, sebuah planet berbatu mungkin tampak layak huni di permukaannya, namun secara mendasar tidak akan mampu mendukung kehidupan biologis.
Risiko lain yang tak kalah serius adalah gangguan jantung, seperti aritmia atau gangguan irama jantung, yang dalam kondisi tertentu bisa berujung pada henti jantung mendadak.
Sejak jutaan tahun lalu, rotasi Bumi terus mengalami perlambatan. Perlambatan ini terjadi akibat tarikan gravitasi Bulan yang menciptakan gaya pasang surut, berfungsi seperti rem alami.
Atmosfer Bumi tidak selalu kaya oksigen seperti saat ini. Sekitar 3 miliar tahun lalu, hampir tidak ada oksigen bebas di udara.
Keterlambatan penanganan penyakit pneumonia pada bayi bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen dalam waktu lama dan kondisi ini mempengaruhi perkembangan otaknya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved