Tendangan Brutal dalam Laga Dewa United vs Bhayangkara FC Picu Ancaman Hukum

Khoerun Nadif Rahmat
20/4/2026 14:49
Tendangan Brutal dalam Laga Dewa United vs Bhayangkara FC Picu Ancaman Hukum
Insiden panas Dewa United vs Bhayangkara FC U-20 berujung ancaman jalur hukum.(Dok. MetroTv)

DEWA United vs Bhayangkara FC di ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20 berubah menjadi sorotan panas setelah insiden kekerasan yang terjadi di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4).

Laga yang seharusnya menjadi panggung pembinaan pemain muda justru ternodai aksi brutal dari pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, yang melakukan tendangan keras ala kungfu ke arah lawan.

Presiden Dewa United, Ardian Satya Negara, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai insiden dalam pertandingan Dewa United vs Bhayangkara FC ini sudah melewati batas dan berpotensi dibawa ke jalur hukum.

“Kompetisi usia muda seharusnya jadi tempat pembelajaran, bukan ajang kekerasan,” tegas Ardian, Senin (20/4).

Menurutnya, sejak awal Dewa United menempatkan EPA sebagai wadah pembinaan karakter dan pencarian bakat untuk tim utama, bukan sekadar mengejar gelar juara. Karena itu, tindakan kekerasan seperti yang terjadi dalam laga Dewa United vs Bhayangkara FC dianggap mencoreng nilai utama kompetisi.

Ardian juga memastikan pihaknya tidak akan tinggal diam. Bahkan, ia membuka kemungkinan proses hukum bagi semua pihak yang terlibat, tidak hanya pemain tetapi juga staf pelatih jika terbukti ikut melakukan kekerasan.

“Saya akan proses secara hukum semua yang terlibat. Ini harus jadi pelajaran,” ujarnya.

Di sisi lain, pihak Bhayangkara FC juga angkat suara. Chief Operating Officer Bhayangkara FC sekaligus Ketua BTN, Sumardji, mengakui adanya masalah dalam laga Dewa United vs Bhayangkara FC tersebut.

laporan dan rekaman video, ia menilai kinerja perangkat pertandingan kurang profesional sehingga memicu ketegangan di lapangan.
Namun, Sumardji juga mengungkap faktor lain yang diduga memancing emosi Fadly Alberto. Berdasarkan pengakuan sang pemain, terdapat dugaan ujaran rasis dari arah bench yang membuatnya kehilangan kontrol.

Meski begitu, Sumardji tetap menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apa pun.

“Apa pun alasannya, menendang lawan itu tidak boleh dilakukan,” tegasnya.

Insiden dalam laga Dewa United vs Bhayangkara FC ini kini menjadi perhatian serius dan berpotensi memicu evaluasi besar terhadap penyelenggaraan kompetisi usia muda di Indonesia. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya