Chelsea Krisis: Liam Rosenior Tertekan, Suporter Gelar Protes Massal di Stamford Bridge

Thalatie K Yani
19/4/2026 07:36
Chelsea Krisis: Liam Rosenior Tertekan, Suporter Gelar Protes Massal di Stamford Bridge
Chelsea mengalami tren terburuk sejak 1912 setelah kalah dari Manchester United. Suporter menuntut pemilik mundur dan masa depan pelatih mulai dipertanyakan.(Chelsea)

STADION Stamford Bridge membara, namun bukan karena prestasi. Yel-yel "we want our Chelsea back" menggema dari jalanan hingga ke tribun penonton saat Chelsea dipaksa menyerah 0-1 oleh Manchester United, Sabtu malam. Kekalahan ini menjadi yang keempat secara beruntun tanpa mencetak satu gol pun di Liga Inggris, rekor terburuk klub sejak November 1912.

Frustrasi pendukung The Blues sangat beralasan. Pasukan Liam Rosenior kini seolah lupa cara mencetak gol setelah melewati hampir enam setengah jam laga tanpa merobek jala lawan. Kekalahan ini membuat peluang lolos ke Liga Champions menipis, menyisakan selisih empat poin dari lima besar meski telah memainkan satu pertandingan lebih banyak.

"Gunung yang Harus Didaki"

Pelatih kepala Liam Rosenior mengakui situasi sulit yang dihadapi timnya. "Ini bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi, tetapi ini memberi kami gunung yang harus didaki. Kami harus menghadapi Brighton [Selasa depan] dengan ide bahwa kami wajib memenangkan laga itu untuk memulai kembali sisa musim kami," ujar Rosenior.

Kegagalan melaju ke Liga Champions akan menjadi pukulan telak, baik secara gengsi maupun finansial. Jika gagal, ini akan menjadi kali ketiga dalam empat musim terakhir Chelsea absen dari kompetisi kasta tertinggi Eropa sejak akuisisi oleh Todd Boehly dan Clearlake Capital pada 2022.

Kursi Panas Rosenior dan Dukungan Pemilik

Meski performa tim merosot ke posisi sembilan dalam tabel performa sejak penunjukannya, posisi Rosenior dikabarkan masih aman. Pemilik klub mengisyaratkan akan memberikan waktu satu musim penuh bagi eks pelatih Strasbourg tersebut.

"Saya pikir kami mendukung Liam. Tentu saja, ini adalah bisnis yang bergantung pada hasil, tetapi kami pikir dia bisa sukses dalam jangka panjang," ujar salah satu pemilik, Behdad Eghbali, dalam acara CAA World Congress of Sports di Los Angeles. Eghbali juga mengakui bahwa kurangnya stabilitas manajerial menjadi masalah utama Chelsea dalam beberapa musim terakhir.

Amarah kepada Pemilik BlueCo

Ketegangan tidak hanya diarahkan kepada pelatih. Gelombang protes massal yang diikuti lebih dari 500 suporter menunjukkan kemarahan besar terhadap kebijakan pemilik (BlueCo). Mereka menuntut kembalinya identitas klub dan mengkritik kebijakan transfer yang terlalu fokus pada pemain muda tanpa keseimbangan pengalaman.

Menanggapi hal tersebut, Eghbali berjanji akan melakukan penyesuaian. "Kami menyadari perlunya keseimbangan. Anda menyesuaikan model, memperbaiki, dan belajar dari kesalahan. Kami perlu menambah pengalaman untuk membawa tim ke level berikutnya," tuturnya.

Ancaman Eksodus dan Sanksi Finansial

Kegagalan ke Liga Champions juga mengancam keutuhan skuad. Bintang utama Cole Palmer secara blak-blakan menyatakan, "Jika kami tidak berada di Liga Champions, semuanya akan berubah." Senada dengan Palmer, agen Enzo Fernandez, Javier Pastore, juga mengisyaratkan bahwa kliennya keberatan jika Chelsea absen dari kompetisi Eropa.

Secara finansial, tanpa pendapatan dari hak siar dan tiket Liga Champions, Chelsea yang sudah menghabiskan £1,5 miliar untuk belanja pemain berada di bawah pengawasan ketat UEFA terkait regulasi keuangan (Financial Fair Play). Jika performa di lapangan tidak segera membaik, ambisi besar pemilik untuk membangun kembali Chelsea terancam runtuh sebelum musim depan dimulai. (BBC/Z-2)    

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya