Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
POLDA Metro Jaya mengungkap dugaan kuat bahwa aksi penyiraman cairan berbahaya terhadap aktivis Kontras merupakan tindakan yang telah direncanakan. Berdasarkan rekaman CCTV, serangan penyiraman cairan berbahaya tersebut terindikasi sebagai operasi yang dirancang sangat matang, di mana korban telah dibuntuti sejak keluar dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jl. Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (12/3).
Penyidik berhasil memetakan pergerakan para pelaku hingga titik eksekusi. Diketahui, korban memasuki kantor YLBHI pada pukul 19.45 WIB untuk mengisi kegiatan podcast, dan baru meninggalkan lokasi pada pukul 23.22 WIB.
“Termonitor di sana korban memasuki kantor YLBHI untuk mengikuti kegiatan podcast kemudian selanjutnya termonitor korban keluar dari kantor YLBHI dan dari sejak dari kantor YLBHI termonitor berdasarkan CCTV yang kami ambil itu sudah ada yang mengikuti oleh terduga pelaku orang tak dikenal,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, dalam konferensi pers di Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Rabu (18/3).
Polisi menemukan adanya pola koordinasi yang sangat rapi di lapangan. CCTV memperlihatkan seorang pelaku yang memantau dari luar kantor YLBHI berjalan kaki di trotoar saat korban hendak keluar. Pelaku ini kemudian memberikan "kode" kepada dua rekannya yang sudah bersiap dengan sepeda motor di seberang jalan.
Sinyal tersebut menjadi komando bagi tim eksekutor untuk mulai melakukan pembuntutan secara melekat.
“Setelah diberi kode bahwa korban sudah keluar kemudian mulai diikuti oleh salah satu motor yang ditunggangi dua orang yang kami duga sebagai eksekutor,” jelas Iman.
Tak hanya motor eksekutor, polisi juga mengidentifikasi kendaraan kedua yang berperan melakukan monitoring atau pengawasan berlapis. Hal itu tergambar saat korban mengisi bensin di SPBU tak jauh dari TKP.
“Termonitor setelah dari SPBU posisi sudah ada yang menunggu ini adalah bagian dari kelompok terduga pelaku adalah kendaraan kedua yang melakukan monitoring terhadap korban,” ungkap Iman.
Puncak aksi teror terjadi pada pukul 23.37 WIB saat korban melintas di Jalan Salemba 1. Kamera pengawas merekam detik-detik dua pelaku eksekutor menyiramkan cairan kimia, sementara kendaraan kedua mengikuti di sisi samping korban untuk memastikan aksi berjalan lancar. Setelah melancarkan aksinya, para pelaku terpantau melarikan diri ke arah yang berbeda.
Salah satu eksekutor diduga ikut terkena percikan cairan berbahaya tersebut saat melarikan diri ke arah Jalan Diponegoro. Rekaman menunjukkan mereka sempat berhenti untuk membersihkan anggota tubuh menggunakan air mineral.
Bahkan, polisi menyebut pengemudi motor eksekutor terpaksa mengganti pakaiannya karena terkena cairan yang sama.
"Yang menggunakan kaos merah itu kami duga pakaian luarnya sudah dilepas karena terlihat pada saat di TKP itu menggunakan kemeja dengan motif batik warna biru," ujar Iman menunjukan rekaman CCTV.
Kecocokan ini diperkuat dengan rekaman CCTV siang hari sebelum kejadian yang memperlihatkan pelaku masih mengenakan batik tersebut. Saat ini, polisi telah mengidentifikasi dua terduga eksekutor utama yang berinisial BHC dan MAK.
Serangan terencana ini menyebabkan Andrie Yunus menderita luka bakar serius hingga 24 persen, yang mencakup area wajah, mata, dada, hingga tangan. Hingga saat ini, aktivis Kontras tersebut masih menjalani perawatan intensif di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).
(Athiyya Nurul Firjatillah/P-4)
TAUD memprotes pelimpahan penanganan kasus penyerangan air keras terhadap aktivis Andrie Yunus dari Polda Metro Jaya ke Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI.
Untuk menjamin objektivitas, Usman mendesak Presiden melibatkan masyarakat sipil dan tokoh berintegritas dalam TPF.
Amnesty International Indonesia mendesak Presiden dan DPR segera membentuk tim pencari fakta (TPF) guna memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.
Jabatan Kabais TNI diserahkan usai kasus penyiraman air keras yang melibatkan anggota Bais. Empat prajurit jadi terduga, proses investigasi masih berlangsung.
PSHK meminta kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS diproses di peradilan umum, bukan militer.
Supremasi hukum harus ditegakkan tanpa harus berkompromi dengan sensitivitas institusional maupun latar belakang korban.
Polisi mengungkap jejak pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus. Rekaman CCTV menunjukkan aksi dilakukan secara terencana sejak awal.
Polda Metro Jaya identifikasi dua terduga pelaku penyiraman air keras aktivis KontraS, BHC dan MAK. Polisi sebut total pelaku diduga lebih dari 4 orang.
FBI merilis rekaman CCTV sosok bersenjata di rumah Nancy Guthrie. Pakar hukum menyebut cara pelaku membawa senjata dan menutupi kamera menunjukkan pola yang aneh.
Rekaman CCTV saat gempa besar mengguncang Myanmar memperlihatkan gerakan patahan yang melengkung.
Tampak dalam kamera tersembunyi itu, penjaga indekos memakai sarung dan menenteng kemeja putih garis-garis di pundak kirinya sambil memegang telepon genggam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved