Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUKUNGAN kepada Menteri BUMN Erick Thohir untuk jadi calon wakil presiden (cawapres) terus mengalir. Dukungan ini juga datang dari massa ‘basis hijau’ yakni para pendukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan organisasi Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU).
Terekam dari hasil survei tatap muka terbaru dari Indikator Politik Indonesia periode 20-24 Juni 2023, menteri andalan dan kepercayaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut banyak mendapatkan dukungan dari basis massa PKB dan NU atau Nahdliyin.
Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi mengatakan Erick Thohir berada di posisi pertama sebagai cawapres yang mendapatkan dukungan basis massa PKB dan diikuti oleh Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa.
Baca juga: Godok 5 Nama Terkuat, PDIP akan Umumkan Cawapres Ganjar pada 4 November
“Basis PKB banyak yang memilih Erick Thohir dan Khofifah,” terang Burhanuddin.
Erick Thohir terekam mendapatkan dukungan terbanyak dari massa PKB kemudian diikuti Khofifah mengikuti di belakangnya. Anggota Kehormatan Banser NU tersebut terekam mendapatkan dukungan sebesar 33,1 persen di basis massa PKB.
Baca juga: PKB Menganggap Prabowo Berkhianat Jika Tak Pilih Cak Imin sebagai Cawapres
Sedangkan Khofifah berada di tempat kedua dengan dukungan sebesar 25,3 persen. Perlu diketahui, hasil bedah survei ini berdasarkan simulasi lima nama cawapres dengan elektabilitas tertinggi versi Indikator.
Dalam simulasi lima nama tersebut, Erick Thohir juga terekam bertengger di posisi pertama dengan elektabilitas sebesar 22,9 persen. Sedangkan di posisi kedua dan ketiga terdapat Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil dan Menparekraf Sandiaga Uno.
Kemudian, di bassi massa NU atau nahdliyin, Erick Thohir juga mendapatkan dukungan tertinggi. Ketua Steering Committee (SC) Panitia Harlah ke-100 NU mendapatkan dukungan sebesar 24,5 persen dari para nahdliyin atau warga NU.
Di belakang Erick Thohir terdapat Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil dengan memperoleh dukungan sebesar 21,0 persen. Dengan hasil ini, Erick Thohir menjadi pilihan utama di ‘basis hijau’ yakni pendukung PKB dan NU untuk menjadi cawapres di Pilpres 2024 mendatang.
“Untuk cawapres hasilnya begini, Erick Thohir menempati peringkat pertama. Kita juga masukkan nama-nama ketum, seperti Muhaimin dan Airlangga Hartarto dan hasilnya Erick Thohir unggul,” pungkas Burhanuddin. (Z-7)
Menurut dia, figur-figur yang ingin menjadi calon presiden atau wakil presiden juga harus masuk terlebih dahulu sebagai kader partai politik.
PASAL mengenai persyaratan calon Presiden dan calon Wakil Presiden dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu atau UU Pemilu kembali digugat ke MK agar bebas dari nepotisme
UU Pemilu digugat meminta keluarga Presiden dan/atau Wakil Presiden yang sedang menjabat dilarang mencalonkan diri sebagai capres dan cawapres
PSI mengatakan keputusan soal calon wakil presiden (cawapres) pendamping Prabowo Subianto pada pilpres 2029 akan diserahkan pada presiden.
empat asas penting yang harus diperhatikan, yakni kecermatan, keterbukaan, kepentingan umum, dan ketidakberpihakan. Namun, dalam keputusan KPU yang telah dibatalkan
KPU ke depan merasa perlu memperoleh pandangan dari berbagai pihak agar keputusan yang diambil lebih komprehensif.
Seluruh keputusan dalam muktamar harus berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan kelompok tertentu.
Saifullah Yusuf menyatakan aspirasi Ketua PWNU se-Indonesia terkait waktu pelaksanaan muktamar selaras dengan keputusan internal organisasi.
Menurutnya ini bukan sekadar teladan yang tidak hanya berlaku bagi kalangan anak muda NU sebagai generasi penerus.
Arah pemilihan Rais Aam melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) saat ini sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kepentingan para aktor utama di posisi Ketua Umum.
Gus Lilur merasa prihatin jika tradisi besar seperti pesantren dan bahtsul masail terpinggirkan oleh kepentingan elektoral.
Oleh karena itu, penguatan relasi NU dan NKRI membutuhkan agenda strategis yang melampaui retorika. Digitalisasi dakwah moderat ialah kebutuhan mutlak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved