Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGANGKATAN Mayjen TNI Untung Budiharto sebagai Panglima Kodam (Pangdam) Jaya menuai penolakan, khususnya dari keluarga korban penghilangan paksa 1997-1998.
Keluarga korban, yakni Paian Siahaan, ayah dari Ucok Munandar Siahaan dan Hardingga, anak dari Yani Afri, bersama dengan Imparsial, Kontras, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) melayangkan gugatan terhadap Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa ke Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN) Jakarta dan Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Jumat (1/4).
Koalisi masyarakat melayangkan gugatan atas Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/5/I/2022 tentang Pengangkatan Pangdam Jaya ke PTUN dan Pengadilan Militer Tinggi II.
Baca juga : Mayjen Hasan Pimpin Serah Terima Jabatan Kapendam Jaya
Mereka menguji obyek Keputusan Panglima tersebut karena rasa keadilan keluarga korban terusik.
Kontras, dalam keterangan pers tertulis, menyebut Mayjen Untung tercatat pernah menjadi anggota Tim Mawar, sebuah tim yang menjadi dalang dari operasi penculikan para aktivis politik prodemokrasi 1997-1998. Masyarakat meminta Panglima TNI memeriksa rekam jejak Mayjen Untung.
"Untuk alasan seperti inilah maka memeriksa rekam jejak personel yang akan menduduki jabatan publik atau vetting mechanism sangat penting dilakukan dan terus disuarakan masyarakat sipil," ujar Wakil Koordinator Kontras Rivanlee Anandar, Sabtu (2/4).
Baca juga : Jokowi Tunjuk 19 Kementerian dan Lembaga Penuhi Hak Korban Pelanggaran HAM
Ia mengatakan hal itu menciptakan eksklusivitas bahkan kekebalan (impunitas) bagi pelaku pelanggar HAM.
Alasan lain, menurut koalisi masyarakat dan keluarga korban, pengangkatan tersebut mencederai perjuangan keluarga korban dan pendamping yang terus mencari keberadaan korban. Hingga saat ini masih hilang.
"Orang-orang yang berada pada inti kasus tersebut, termasuk Untung Budiharto, tidak pernah berterus terang atas kebenaran kasus atau membantu investigasi pencarian, lagi-lagi malah diberi apresiasi dan promosi jabatan," ujarnya.
Baca juga : Mobil Pelat Dinas TNI Tabrak HR-V di Jaksel Berujung Damai
Pada peristiwa penghilangan paksa 1997-1998, dari hasil Penyelidikan Pro Justisia yang dilakukan Komisi Nasional (Komnas) HAM, diketahui 6 dari 13 korban belum kembali.
Komnas HAM menyatakan korban yang hilang atau pernah hilang berada pada lokasi yang sama atau bahkan di bawah penguasaan suatu kelompok yang sama, yakni Poskotis (Pos Komando Taktis) Markas Kopassus di Cijantung, DKI Jakarta atau berada dalam penguasaan Kopassus.
"Sikap Untung dan Tim Mawar yang tidak pernah membuka kepada aparat hukum/proses hukum mengenai keberadaan korban yang lain menunjukkan bahwa anggota Tim Mawar (termasuk Untung Budiharto) hingga sekarang, meskipun telah memegang berbagai jabatan publik, tidak sungguh-sungguh menyesali perbuatan mereka," demikian pernyataan Koalisi.
Pengangkatan Untung, sebut Koalisi, berpotensi mengganggu penegakan hukum dan hak asasi manusia di wilayah Kodam Jaya. (OL-1)
Hal ini diungkapkan Asep usai rapat koordinasi Forkopimda DKI Jakarta bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung serta Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri.
Pangdam Jaya Mayjen TNI Mohamad Hasan mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan pembersihan dan sterilisasi sisa amunisi yang meledak dalam insiden tersebut.
TNI mengimbau seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi ledakan dan kebakaran gudang amunisi Kodam Jaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk tetap tenang dan tidak khawatir.
Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta (Pangdam Jaya) Mohamad Hasan telah memerintahkan aparat teritorial hingga Polsek dan Polres untuk mengamankan seluruh amunisi yang terlempar.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran di Gudang Peluru di Ciangsana, Jawa Barat, Sabtu (30/3).
Sistem pergudangan sudah sangat aman karena lokasinya ada di bunker.
Komnas HAM menilai operasi TNI di Kabupaten Puncak, Papua, yang menewaskan 12 warga sipil sebagai pelanggaran HAM. Simak pernyataan lengkap dan desakan evaluasi.
DPR mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk segera mengeluarkan kesimpulan tegas terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus
Komnas HAM mendesak pemeriksaan transparan terhadap mantan Kabais TNI terkait kasus penyiraman air keras aktivis Andrie Yunus. Penegakan hukum dinilai krusial.
Hal ini menunjukkan kondisi KBB 2025 masih masalah serius dan tidak menampakkan perbaikan yang signifikan.
Pasukan Israel serbu belasan desa di Ramallah, tahan satu pemuda, aniaya warga, hingga sita rumah dan uang tunai penduduk dalam operasi militer Kamis malam.
Amnesty International Indonesia menilai kematian pelajar 14 tahun di Tual, Maluku, memperpanjang dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat dan mendesak reformasi struktural Polri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved