Menyambung Surat Kartini di Era Kode dan Algoritma

Rita Pranawati Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, dosen FISIP UHAMKA
21/4/2026 05:05
Menyambung Surat Kartini di Era Kode dan Algoritma
(MI/Seno)

ADA sebuah penggalan surat yang selalu terasa ganjil setiap kali kita hanya mengenang Kartini dengan kebaya dan sanggul. Dalam suratnya kepada Nyonya Van Kool pada Agustus 1901, ia menulis, 'Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya'.

Lebih dari seabad kemudian, pada 2026, gaung harapan itu kembali menemukan bentuknya. Kali ini bukan lagi dalam perjuangan melawan adat pingitan atau mendirikan sekolah gadis di belakang pendapa kabupaten. Harapan itu kini bersalin rupa melalui program Kementerian Pendidikan yang memasukkan kecerdasan buatan (AI) dan coding ke kurikulum.

Program itu juga diperkuat dengan hadirnya papan interaktif digital (PID) sebagai upaya akselerasi digitalisasi media belajar sesuai dengan zamannya. Jika kita mau jujur, inilah salah satu tafsir paling mengena atas cita-cita Kartini pada abad ke-21: membuka akses seluas-luasnya bagi akal perempuan untuk memahami dan mengikuti dunia yang tidak berhenti berubah.

 

DARI TIDAK TAHU MENJADI BISA

Dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon pada Agustus 1900, Kartini kecil bercerita tentang teman sekolahnya yang berkulit putih bertanya, "Kamu kelak ingin jadi apa?" Kartini kecil menjawab pendek: "Tidak tahu."

Jawaban itu bukanlah cermin kebodohan, melainkan cermin dari sempitnya cakrawala yang tersedia bagi anak perempuan Bumiputra saat itu. Mereka tidak bisa membayangkan menjadi insinyur, dokter, apalagi ahli bahasa mesin. Ruang imajinasi mereka dipagari tembok tradisi dan keterbatasan akses.

Kartini sendiri, meski lahir dari keluarga bangsawan, harus menjalani pingitan selama enam tahun. Dari balik dinding kabupaten itulah ia merajut perlawanannya melalui tinta dan kertas — bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan 'diplomasi kata' kepada para sahabatnya di Belanda. Diplomasi yang sama sebenarnya kini kita butuhkan: bukan melawan penjajah fisik, melainkan melawan kesenjangan digital yang diam-diam memagari anak-anak di pelosok.

Hari ini, pertanyaan 'mau jadi apa?' seharusnya sudah jauh lebih luas cakupannya. Program AI dan coding yang diinisiasi kementerian menawarkan kemungkinan yang dulu tak terbayangkan oleh Kartini kecil: menjadi data scientist yang mengurai masalah gizi buruk, menjadi software engineer yang membangun sistem keamanan siber untuk komunitas, atau menjadi kreator teknologi tepat guna untuk pertanian di desa. Itulah akselerasi yang dibutuhkan. Bukan sekadar memberikan gawai, melainkan juga membuka cakrawala profesi dan peran yang sebelumnya begitu asing.

Di sinilah PID menemukan fungsinya yang paling tepat: membuka ruang bagi anak-anak untuk eksplorasi alam semesta dan dunia, secara interaktif yang menyenangkan dan penuh rasa ingin tahu. Sementara itu, guru pun bertransformasi — tak lagi sekadar berdiri di depan papan tulis, tetapi juga menjadi pemandu yang dengan sabar mengarahkan setiap langkah eksplorasi murid-murid mereka.

Namun, perlu diingat, Kartini tidak hanya meminta pendidikan bagi dirinya sendiri. Ia meminta pendidikan bagi kaumnya. Dalam surat-suratnya, ia dengan sengaja menggunakan kata 'kami' dan 'kaum perempuan', bukan 'saya'. Artinya, program digitalisasi itu hanya akan bermakna jika ia menjangkau mereka yang paling jauh dari pusat kekuasaan. Jika tidak, kita hanya akan menciptakan oligarki pengetahuan baru: siswi di kota besar fasih berdebat soal etika AI, sementara saudara mereka di pedalaman masih bergulat dengan sinyal yang hilang-timbul.

 

GURU DAN KIAI DI ERA DIGITAL

Perjalanan intelektual Kartini dibentuk dua kutub yang saling mengisi: sahabat-sahabatnya di Eropa yang membawa gagasan modern dan pertemuannya dengan Mbah Sholeh Darat di Demak yang memberinya akses pada kedalaman spiritual.

Dalam sebuah pengajian, Kartini mendengar Mbah Sholeh Darat menafsirkan surah Al-Fatihah. Kartini terhenyak. Selama ini ia hanya bisa membaca Al-Qur'an tanpa memahami maknanya. Pertemuan itu membawanya pada pemahaman baru: bahwa teks suci tidak untuk sekadar dilafalkan, tapi juga direnungkan dan dijadikan panduan.

Dari Mbah Sholeh Darat, ia menerima hadiah pernikahan berupa kitab tafsir Faidhur Rohman. Dari situlah ia menemukan ayat, 'Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya'. Frasa itu yang kemudian ia tulis dalam bahasa Belanda menjadi 'door duisternis tot licht', yang kita kenal sebagai 'habis gelap terbitlah terang'.

Analogi itu relevan untuk membaca situasi pendidikan teknologi kita hari ini. Siswa dan siswi di pelosok negeri ialah 'Kartini-Kartini kecil' yang lapar dan haus makna. Mereka butuh akses pada 'kode' (baik kode kitab suci maupun kode pemrograman) dan 'guru' yang bisa menerjemahkannya. Digitalisasi pembelajaran hanya akan menjadi tempelan jika tidak dibarengi dengan kehadiran guru, terutama guru perempuan, yang mampu menjadi 'Mbah Sholeh Darat' di era digital: sosok yang tidak hanya mengajarkan sintaksis Python, misalnya, tetapi juga mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi.

Di sinilah pentingnya pelatihan guru yang masif dan berkelanjutan. Seorang guru yang percaya diri mengajarkan dasar-dasar AI kepada murid perempuannya ialah pembuka pintu yang paling konkret, yang diam-diam meyakinkan siswi bahwa teknologi bukan dunia yang asing, apalagi yang hanya milik laki-laki. PID memperkuat keyakinan itu secara nyata: bahwa belajar bisa dijalani dengan gembira dan perayaan atas rasa ingin tahu yang terus-menerus menyala.

 

MENJAGA NYALA API KASIH SAYANG DI TENGAH KEBISINGAN ALGORITMA

Di tengah riuh rendah kemajuan teknologi, kita juga perlu menangkap satu pesan penting dari surat-surat Kartini yang sering luput. Ketika berhadapan dengan upaya misionaris yang getol di Jawa, Kartini tidak merespons dengan kebencian. Ia justru menulis kepada Nyonya Abendanon pada 14 Desember 1902, 'Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang'.

Itu bukanlah sikap abu-abu Kartini. Itu ialah keteguhan seorang perempuan muda yang memilih nilai kemanusiaan di atas sekat-sekat identitas. Pada era media sosial dan algoritma yang cenderung mengeraskan polarisasi dan menyebarkan ujaran kebencian, pesan Kartini tentang 'agama kasih sayang' menjadi fondasi yang sangat penting. Program AI dan coding yang dijalankan kementerian dibarengi dengan pendidikan karakter digital melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat). Para guru juga dibekali dengan kemampuan bimbingan konseling melalui Tujuh Jurus BK Hebat untuk mengembangkan potensi murid sebab kita tidak ingin 'Kartini-Kartini baru' hanya mahir membuat chatbot, tetapi kehilangan kepekaan untuk memahami luka sesama manusia.

Kartini juga pernah menulis kepada Nona Zeehandelaar pada 18 Agustus 1899, 'Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan pikiran dan bangsawan budi'. Pada era algoritma yang kerap mengukur manusia dari metrik popularitas dan jumlah pengikut, ajakan untuk menghargai pikiran dan budi itu menjadi semacam perisai budaya. Teknologi haruslah menjadi alat untuk mengasah dua jenis 'kebangsawanan' itu, bukan untuk merendahkannya.

 

WARISAN YANG BELUM SELESAI

Kartini tidak pernah meminta untuk dijadikan patung. Ia hanya ingin surat-suratnya dibaca, dan dari pembacaan itu lahir tindakan. Hari ini, surat-suratnya yang berisi kegelisahan tentang pendidikan, agama, dan kemanusiaan menemukan relevansinya dalam program-program konkret seperti digitalisasi sekolah.

Tugas kita bukanlah sekadar merayakan Hari Kartini dengan seremoni. Tugas kita memastikan setiap siswi di ujung timur atau pelosok pegunungan memiliki kesempatan yang sama untuk membuka laptop dan menulis baris kode pertama mereka. Di situlah sejatinya 'Terang' itu bermula: bukan dari kutipan-kutipan yang diulang-ulang, melainkan dari nyala monitor dan PID yang membuka jendela dunia — dan dari semangat 'kasih sayang' serta 'kebangsawanan budi' yang dijaga tetap menyala di baliknya.

Kartini pernah menulis, 'Kami hanya perempuan, yang menciptakan apa yang dapat diciptakannya'. Kini, dengan bekal akses digital dan pendidikan yang memadai, 'apa yang dapat diciptakan' itu tak lagi terbatas pada ukiran kayu atau sulaman, tetapi juga solusi-solusi digital yang bisa menyentuh jutaan manusia. Selamat menyambung surat-surat itu, dengan kode!

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya