Indonesia Tersingkir dari Piala Thomas 2026 Picu Desakan Reformasi PBSI

Khoerun Nadif Rahmat
29/4/2026 19:27
Indonesia Tersingkir dari Piala Thomas 2026 Picu Desakan Reformasi PBSI
Ganda putra Indonesia Sabar/Reza(Dok.PBSI)

KEGAGALAN tim Indonesia ke fase gugur Piala Thomas 2026 memicu desakan reformasi total di tubuh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI.

Langkah tim Thomas Indonesia terhenti di fase grup setelah kalah 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D di Forum Horsens, Denmark. Hasil itu menjadi catatan buruk karena untuk pertama kalinya sejak debut pada 1958, Indonesia gagal melaju ke fase gugur.

Indonesia langsung tertinggal setelah kalah di empat partai awal. Jonatan Christie takluk dari Christo Popov dengan skor 19-21 dan 14-21. Alwi Farhan kemudian menyerah 16-21 dan 19-21 kepada Alex Lanier.

Anthony Sinisuka Ginting sempat memberi perlawanan ketat, namun harus mengakui keunggulan Toma Junior Popov melalui pertandingan tiga gim 22-20, 15-21, dan 20-22. 

Kekalahan Indonesia dipastikan setelah ganda Sabar Karyaman Gutama Mohammad Reza Pahlevi Isfahani kalah dari Eloi Adam Leo Rossi dengan skor 19-21 dan 19-21. Satu-satunya poin Indonesia diraih Fajar Alfian Muhammad Shohibul Fikri di partai terakhir.

Ketua Masyarakat Pemerhati Badminton Indonesia MPBI Kurniadi menilai kegagalan itu bukan semata persoalan teknis, melainkan akumulasi masalah tata kelola organisasi.

"Pasti lah ini berita menyakitkan bukan sekedar menyedihkan, tim Thomas kita pertama kalinya gagal lolos dari fase grup," kata Kurniadi, Rabu (29/4).

"Kasus ini seakan memberi momentum kepada MPBI untuk menyadarkan masyarakat bahwa persoalan berat bulutangkis kita selama ini bukan lah masalah kapasitas atlet, pelatih atau sarana pendukung latihan. Masalahnya ada di integritas dan politisasi kepengurusan yang membawa efek pada muara pembinaan," tambahnya.

Ia menyebut MPBI sejak 2018 telah mendorong transparansi data atlet untuk memberantas praktik pencurian umur. Namun hingga kini, keterbukaan tersebut dinilai belum berjalan optimal.

Selain itu, Kurniadi juga menyoroti dinamika internal kepengurusan yang dinilai mengganggu pembinaan di daerah.

"Pemilihan seleksi pemain nasional juga harus transparan, informasikan alurnya secara beruntun dari pusat sampai ke klub klub kecil di daerah agar mereka semua tahu. Begitu juga yang diluar PBSI untuk pemilihan atlet yang akan bertanding di pekan olahraga pelajar tingkat propinsi dan nasional sampai internasional, janganlah seenaknya," lanjutnya.

Atas hasil piala Thoomas, MPBI mendesak sejumlah petinggi PBSI untuk mundur sebagai bentuk tanggung jawab. "Mulai dari EH sebagai Kabinpres, TH sebagai Waketum 1 dan MS sebagai Kabid organisasi terkait PU, mundurlah agar menjadi pembelajaran dan presure bagi pengurus yang lain," pungkas Kurniadi. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya