Strategi Atasi Overtourism Labuan Bajo: Pengembangan Destinasi Alternatif dan Distribusi Wisatawan

Basuki Eka Purnama
20/4/2026 10:58
Strategi Atasi Overtourism Labuan Bajo: Pengembangan Destinasi Alternatif dan Distribusi Wisatawan
Sejumlah wisatawan mendaki Bukit Pulau Padar untuk menyaksikan panorama alam Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (23/3/2026).(ANTARA/Gecio Viana)

LABUAN Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini menghadapi tantangan besar terkait lonjakan kunjungan wisatawan yang berisiko memicu overtourism. Dewan Pakar Bidang Pariwisata dari BA Center, Taufan Rahmadi, menekankan pentingnya pemerintah segera mengembangkan destinasi alternatif guna menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya di Taman Nasional Komodo.

Menurut Taufan, kebijakan pariwisata tidak boleh hanya terpaku pada pembukaan lokasi baru, melainkan harus mampu membangun ekosistem pariwisata yang utuh dan berkelanjutan. Pengembangan destinasi di luar ikon utama menjadi kunci agar beban kunjungan tidak menumpuk di satu titik.

"Concern saya adalah bagaimana setiap kebijakan pariwisata itu mampu membangun sebuah ekosistem pariwisata yang utuh. Labuan Bajo tidak hanya bergantung pada satu ikon saja, tetapi berkembang menjadi destinasi yang berlapis dengan beragam atraksi," ujar Taufan dalam keterangan resmi, dikutip Senin (20/4).

Tiga Pilar Pengembangan Destinasi Alternatif

Untuk mewujudkan pemerataan kunjungan tersebut, Taufan merinci tiga hal mendasar yang wajib dipersiapkan oleh pemerintah:

Pilar Utama Fokus Pengembangan
Aksesibilitas & Konektivitas Optimalisasi infrastruktur jalan, transportasi laut, dan integrasi antardestinasi agar wilayah di luar pusat Labuan Bajo mudah dijangkau.
Kurasi Produk Lokal Mengemas potensi budaya, desa wisata, lanskap daratan, hingga wisata minat khusus (treking, geowisata) dengan narasi yang kuat.
Kualitas SDM Standardisasi layanan masyarakat lokal agar wisatawan mendapatkan pengalaman keramahtamahan yang berkualitas sesuai harapan.

Manajemen Kunjungan dan Tarif Adaptif

Terkait pengelolaan Taman Nasional Komodo, Taufan menyarankan agar pemerintah tidak sekadar membatasi jumlah kedatangan secara kaku, melainkan menerapkan sistem distribusi wisatawan yang merata. Hal ini dapat dicapai melalui sistem manajemen kunjungan terintegrasi yang mengatur lokasi, waktu, dan jenis aktivitas secara digital.

Selain itu, ia mengusulkan penerapan strategi tarif yang adaptif. "Tarif yang berbeda berdasarkan waktu kunjungan, zona, atau eksklusivitas dapat menjadi instrumen untuk mengatur permintaan tanpa harus membatasi secara kaku," jelasnya.

Strategi Distribusi Wisatawan:
  • Penerapan sistem manajemen kunjungan terintegrasi.
  • Strategi tarif adaptif berdasarkan zona dan waktu.
  • Penguatan edukasi wisatawan mengenai isu lingkungan dan keberlanjutan.
  • Manajemen stakeholder yang cerdas, adil, dan berkelanjutan.

Sebagai penutup, Taufan menegaskan bahwa arah baru pariwisata Labuan Bajo harus bergeser dari pendekatan kuantitas menuju kualitas. Menjaga kelestarian ekosistem adalah keharusan, namun memastikan roda ekonomi masyarakat lokal tetap berputar melalui diversifikasi destinasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pariwisata nasional. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya