Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kue rumahan, khususnya pembuat jajanan pasar tradisional di Kota Bandung dan Cimahi, sangat bergantung pada tepung beras kemasan bermerek. Pilihan ini diambil karena faktor kualitas yang unggul dan efisiensi produksi, meskipun bahan baku tepung kemasan tersebut dilaporkan mulai dibatasi karena terbuat dari beras pecah impor.
Para pembuat kue seperti surabi, talam, nagasari, dan lapis pelangi kompak menyatakan bahwa tepung beras kemasan bermerek memberikan hasil akhir yang jauh lebih baik dari segi tekstur, rasa, dan tampilan, dibandingkan menggunakan tepung beras giling berbahan dasar beras lokal.
Perbedaan Kualitas dan Kepraktisan
Afwa Latifah, penjual surabi di Kota Cimahi, mengungkapkan perbedaan kualitas sudah terlihat sejak adonan dicampur.
“Kalau yang tepung beras kemasan warnanya lebih putih. Setelah adonannya matang, saat dimakan rasanya lebih lembut dan berpori bagus, seperti bika ambon. Kalau tepung giling (beras lokal) warnanya kuning dan hasil akhirnya lebih lembek,” jelas Afwa.
Suami Afwa, Nursalim Sidik, menambahkan bahwa kepraktisan menjadi faktor terbesar. Tepung beras kemasan bisa langsung diolah, sementara tepung giling dari beras lokal membutuhkan proses yang lebih panjang, hasilnya tidak selalu halus, dan ketersediaannya tidak stabil.
Aa Nun, pelaku UMKM surabi lainnya, mengatakan tekstur yang stabil dari tepung kemasan bermerek membuat produknya disukai pembeli dari berbagai wilayah. “Rasanya konsisten, tidak berubah-ubah dibanding menggunakan tepung beras giling yang berbahan baku beras lokal,” ucapnya, dengan omzet sekitar Rp300 ribu per hari dari dua kilogram adonan surabi.
Senada, Sukirman (40), pemilik UMKM Lapis Azka Talam, mengaku pernah mencoba bereksperimen dengan tepung giling lokal, namun hasilnya tidak layak jual karena tekstur kue menjadi lembek, kurang kenyal, dan tidak bisa mengembang sempurna.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Cimahi, Hella Haerani, membenarkan kecenderungan UMKM memilih tepung beras kemasan bermerek karena pertimbangan efektivitas dan penghematan waktu.
“Sekarang dengan logika aja, kalau UMKM tepung berasnya bikin sendiri waktunya lama. Ya pasti mereka beli yang kemasan, kita bicara yang riil aja. Perhitungan biaya produksi jauh lebih murah,” papar Hella.
Hella menekankan bahwa pemilihan bahan baku yang efisien dan berkualitas sangat penting bagi UMKM untuk menghasilkan kue yang bagus dengan harga jual yang kompetitif, yang pada akhirnya akan mempengaruhi omzet penjualan dan pendapatan pelaku usaha. (AN/P-5)
Pada Trade Expo Indonesia 2025, UMKM Bontang berhasil mencatatkan 20 kontrak dagang dan 1 nota kesepahaman (MoU) dengan buyer internasional.
Banyak di antara peserta merupakan generasi kedua pelaku usaha yang kini menghadapi berbagai tantangan baru.
Program ini juga memberikan pelatihan menyeluruh, mulai dari administrasi bank sampah, sistem pencatatan tabungan, hingga keterampilan daur ulang sampah.
TRANSFORMASI digital UMKM kian bergerak ke arah model “website-first”.
Kesenjangan pendanaan UMKM di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp2.400 triliun. Amartha hadirkan solusi pembiayaan inklusif untuk tingkatkan pendapatan pelaku usaha.
Adhitya mengatakan sebagai wujud konkret semangat gotong-royong, MitMe Fest 2026 mendapat dukungan penuh dari mitra strategis lintas sektor.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved