Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PUNCAK banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatara Utara, dan Sumatra Barat sudah 11 hari berlalu. Namun, penderitaan warga seperti bertambah panjang dan sangat mengerikan.
Itu diduga karena lambannya penanganan pemerintah untuk melakukan evaluasi mereka yang tersisa dan minimnya bantuan bahan makanan serta obat-obatan pertolongan pertama pascabanjir. Akhirnya ribuan warga, terutama di kawasan pedalaman kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sumatra Utara tersebut bertahan di puing-puing pondasi rumah yang tersisa.
Sesuai Penelusuran Media Indonesia, Minggu (7/12) di Kabupaten Aceh Tamiang misalnya, beberapa lokasi terparah kini sudah keluar bau tidak sedap. Bau menyengat menusuk hidung itu berasal dari sedimen sampah banjir dan dari puing bangunan atau dibalik rumah rubuh.
Ada kemungkinan di bawah sampah atau puing berserakan itu masih ada jemazah yang belum dievaluasi karena keterbatasan relawan dan minim alat berat. Apalagi masih banyak warga yang hilang belum diketahui di mana keberadaan mereka.
Seperti di kawasan Kecamatan Karang Baru, ratusan rumah rata tersapu banjir. Tidak bisa dibayangkan betapa dahsyat arus banjir saat menerjang lokasi setempat pada Rabu (26/11) dan Kamis (27/11) kala itu.
Warga yang selamat harus bertahan di bekas puing-puing rumah dan bangunan lainnya. Mereka juga krisis bahan makanan. Untuk mempertahankan hidup harus minum air bekas banjir. Bahkan untuk bayi sekalipun harus diberi air genangan itu.
"Aceh Tamiang mencekam, bau manyat membusuk di mana-mana. Tidak makan berhari-hari, pengungsi minum air banjir. Kondisi 90% lebih buruk dari yang nampak di sosmed," tutur Jamaludin sorang guru yang baru mendapat kabar dari Aceh Tamiang.
Lokasi paling parah lainnya adalah di kawasan Kecamatan Tamiang Hulu, itu merupakan termasuk lokasi hulu sungai Tamiang. Warga krisis bahan makanan dan air bersih.
Mereka hanya yang tersisa baju di badan. Semua isi dalam rumah musnah terbawa arus. Untuk menjangkau lokasi itu sangat sulit karena badan jalan rusak parah dan tertbun sampah banjir.
"Saya baru dapat kabar kedua orangtua selamat. Sekarang sudah berkumpul di suatu tempat yang kalau malam gelap gulita, apalagi cuaca mendung. Mereka penuh ketakutan dan trauma. Tapi saya belum pernah berbicara dengan orangtua. Itu baru kabar dari adik yang bisa saya kontak," tutur Sugeng Handayani, guru di Kabupaten Pidie asal Aceh Tamiang.
Dikatakan Sugeng, dari Pidie menuju Aceh Tamiang sangat sulit karena banyak jembatan putus dan jarak yang hampir 500 km. Namun dirinya tetap pulang untuk mengetahui dan membantu orangtuanya di kampung.
"Saya harus berputar lewat jalur Banda Aceh- Aceh Jaya- Barat Selatan Aceh. Terus melalui Kota Subulussalam dan melanjutkan ke Kaban Jahe Sumatra Utara, terus ke Medan lalu baru ke Tamiang. Jaraknya bisa memakan waktu tiga hari pakai mobil minibus," tambah Sugeng yang sudah sampai di Kanan Jahe pada Minggu (7/12) sore. (MR/E-4)
BENCANA banjir besar yang melanda wilayah Aceh dan Sumatra Utara memicu kondisi darurat kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
KLH beri sanksi administratif 67 perusahaan di Sumatera yang berkontribusi terhadap banjir. Langkah ini harus diikuti dengan kepatuhan lingkungan.
Faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama bagi para penyintas. Harga yang sangat terjangkau membuat kios ini menjadi primadona bagi warga yang sedang merintis kembali hidupnya.
PENYINTAS banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, masih belum baik-baik saja.
CITI Foundation berkolaborasi dengan Save the Children Indonesia untuk memberikan respons kemanusiaan menyeluruh bagi anak-anak dan keluarga terdampak banjir di wilayah Sumatra Utara.
WARGA korban banjir di kawasan Provinsi Aceh hingga kini masih harus menjalani hari-hari yang berat.
Kepala Pos Komando Wilayah Aceh Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Safrizal ZA, meninjau langsung hunian sementara.
Pemerintah menepis narasi yang berkembang di media sosial yang menyebut pemerintah menyerah dalam menangani lumpur pascabanjir Aceh.
Satuan Tugas Percepatan Pemulihan Pascabencana (PRR) melaporkan progres pembersihan lumpur pascabanjir di Aceh telah mencapai 92% hingga awal April 2026.
Banjir bandang kembali melanda Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada Senin (6/4).
Lokasi lahan masjid yang sebelumnya luas berkisar 2 hektare, habis tergerus arus deras saat banjir Aceh.
Sekretaris BNPP RI, Komjen Pol. Makhruzi Rahman melakukan peninjauan ke wilayah terdampak banjir bandang di Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved