Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMPROV Sulawesi Selatan berkomitmen mencegah gizi buruk, dengan mencanangkan Gerakan Masyarakat Mencegah dan Memberantas Stunting. Sebagai permulaan, digelarlah rapat koordinasi oleh Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, di kantor Gubernur Sulsel, Selasa (21/1). Ia menargetkan prevelensi balita stunting terus menurun dari tahun ke tahun. Dari 11 kabupaten/kota di Sulsel yang masuk kawasan penderita gizi buruk atau stunting yang relatif tinggi, Sulsel akan fokus melakukan intervensi di dua kabupaten.
Adapun 11 kabupaten Kota itu adalah Kabupaten Enrekang, Bone, Pinrang, Gowa, Pankajene Kepulauan (Pangkep), Tana Toraja, Sinjai, Jeneponto, Toraja Utara, Takalar dan Kepulauan Selayar. Sementara dua kabupaten itu adalah Enrekan dan Bone masuk kategori tinggi stunting. Data Dinas Kesehatan Sulsel menyebutkan pravelansi stunting di Sulsel, yaitu di Kabupaten Enrekang 45,8 persen, dan Bone 40,1 persen.
Menurur Sudirman, pentingnya intervensi penyelesaian masalah stunting di Sulsel, karena akan dibuat sebagai percontohan nasional.
"Dalam proses penyelesaian, dibutuhkan raport program," tukasnya.
baca juga: Cegah Virus Corona, Jatim Perketat Penumpang dari Tiongkok
Di Enrekan, akan fokus intervensi di 70 desa dan Kabupaten Bone 40 desa, dengan sejumlah sasaran, bukan hanya bayi saja tapi juga ibu hamil.
"Sasaran intervensi bukan cama bayi bawah tiga tahun (batita) tapi juga ibu hamil. Tenaga pendamping gizi akan memberi kepastian apa bantuan sampai atau tidak. Tenaga pendamping gizi, berkedudukan di desa, pendampingan dilakukan pada fokus keluarga miskin dan pendidikan rendah," urai Sudirman.
Untuk mengatasi gizi buruk atau stunting di Sulsel, Pemprov bahkan mengeluarkan anggaran sebesar Rp8 miliar. (OL-3)
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat prevalensi stunting di wilayah tersebut berada di kisaran 26,1 persen dan ditargetkan turun sebesar lima persen pada 2026.
Studi IHDC mengungkap hubungan signifikan antara stunting, anemia, dan rendahnya kemampuan working memory pada anak usia sekolah di Indonesia.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan targetkan angka stunting turun ke 7% pada 2026 melalui kolaborasi stakeholder dan penguatan peran SPPG.
IDAI ingatkan orangtua mengenai pentingnya kurva pertumbuhan untuk pantau tumbuh kembang anak secara akurat dan cegah salah diagnosis stunting.
Presiden INA Dr. dr. Luciana B. Sutanto menekankan pentingnya protein dan zat besi untuk kecerdasan anak serta pencegahan stunting dan anemia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved