Strategi Pemprov DKI: Manfaatkan Kemarau Panjang untuk Percepat Pengerukan Kali

Golda Eksa
10/4/2026 17:25
Strategi Pemprov DKI: Manfaatkan Kemarau Panjang untuk Percepat Pengerukan Kali
Proses pembersihan sampah di Kanal Banjir Barat .(Antara)

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat merespons peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Memanfaatkan momentum musim kemarau panjang yang diprediksi segera tiba, Pemprov DKI menginstruksikan percepatan pengerukan kali dan normalisasi sungai di seluruh wilayah Ibu Kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menegaskan langkah ini merupakan upaya preventif strategis untuk menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan jatuh pada September 2026.

“Jakarta, mulai pertengahan April ini diprediksi BMKG curah hujannya menurun, ada El Nino sampai September. Maka, Pemerintah Jakarta akan konsentrasi untuk melakukan pengerukan kali dan normalisasi sungai,” ujar Pramono saat meninjau lokasi di Jakarta Pusat, Jumat (10/4).

Fokus Kanal Banjir Barat
Dalam tinjauan lapangan pada Jumat pagi, Pramono memantau langsung proses pengerukan di Kanal Banjir Barat (KBB), khususnya pada segmen Pintu Air Manggarai hingga Jalan Kyai Tapa (Roxy), Tanah Abang. Proyek masif ini ditargetkan rampung sepenuhnya dalam kurun waktu satu tahun.

Kanal Banjir Barat memiliki lebar yang bervariasi antara 30 hingga 100 meter. Berdasarkan data teknis, total rencana volume pengerukan di kawasan ini mencapai 179.269 meter kubik.

Untuk efektivitas pengerjaan, proyek dibagi ke dalam tiga segmen utama:

  •     Segmen I: Pintu Air Manggarai – Stasiun Karet (3.543 meter).
  •     Segmen II: Stasiun Karet – Pintu Air Karet (686 meter).
  •     Segmen III: Pintu Air Karet – Jalan Kyai Tapa/Roxy (3.850 meter).

Saat ini, prioritas pengerjaan difokuskan pada segmen ketiga dengan target volume kerukan mencapai 165.381 meter kubik.

Integrasi Normalisasi Sungai
Program pengerukan ini tidak berdiri sendiri. Pramono menjelaskan bahwa hasil pengerukan di KBB akan diintegrasikan dengan program normalisasi sungai yang lebih luas, terutama pada aliran Sungai Ciliwung dan Kali Krukut. Sinergi ini diharapkan mampu memastikan aliran air menuju laut tetap lancar saat debit air meningkat tajam.

Namun, Gubernur mengakui bahwa tantangan geografis tetap ada, terutama terkait fenomena banjir rob di wilayah pesisir. “Kalau ini berhasil, aliran air ke laut akan semakin cepat. Tantangannya memang saat terjadi rob, air tetap tertahan. Namun, ini bagian dari upaya besar kita untuk mengendalikan banjir,” pungkas Pramono.

Langkah proaktif di tengah musim kemarau ini menjadi tumpuan harapan bagi warga Jakarta agar risiko banjir tahunan dapat ditekan secara signifikan. (Ant/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya