Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBAKARAN hutan terus terjadi di berbagai provinsi negara kita. Laman Presiden RI pada 7 Oktober 2023 menyebutkan bahwa pemerintah terus berupaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di Tanah Air.
Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa dirinya telah menginstruksikan kepada Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan jajaran pemerintah daerah untuk segera menangani titik api yang muncul. Kepala Negara mengatakan saat ini suhu udara di Indonesia lebih panas dari suhu normal.
Selain itu, menurut Presiden, musim kemarau yang panjang berpotensi meningkatkan dan memperluas jumlah titik panas di sejumlah daerah. Namun, Presiden meyakini bahwa pengendalian karhutla saat ini sangat baik jika dibandingkan dengan kebakaran hutan pada 2015 lalu.
Komposisi dan partikel
Dari berbagai dampak kebakaran hutan, kerugiannya pada kesehatan tentu perlu jadi perhatian penting. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan bahwa risiko kesehatan akibat kebakaran hutan akan terus meningkat dengan situasi kekeringan yang terjadi juga dengan awan panas serta angin yang kencang.
Disebutkan bahwa komposisi asap kebakaran hutan mengandung campuran dari berbagai jenis pencemar udara, seperti PM2.5, NO2, ozon, hidrokarbon aromatik, dan timbal. Selain dampak pencemaran udara, kebakaran hutan juga memengaruhi cuaca secara umum dengan dikeluarkannya karbon dioksida dan gas rumah kaca secara besar ke atmosfer.
Sejalan dengan itu, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environment Protection Agency - US EPA) menyebutkan bahwa asap kebakaran hutan merupakan gabungan dari gas (seperti karbon monoksida), polutan udara berbahaya (hazardous air pollutants/HAPs) seperti hidrokarbon polisklik aromatik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAHs), uap air, dan polusi partikel.
Disebutkan bahwa polusi partikel adalah komponen utama asap kebakaran hutan yang memengaruhi kesehatan manusia. Partikel ini dapat terdiri atas berbagai komponen, seperti asam (misalnya asam sulfat), bahan anorganik (seperti ammonium sulfat, ammonium nitrat, dan natrium klorida), bahan kimia organik, timbal, logam, partikel debu, serta material biologik seperti serbuk dan spora.
Khusus untuk partikel itu, dampaknya memang bergantung kepada berapa ukurannya. Kalau ukurannya kecil, yang kita kenal dengan PM2.5, yaitu partikel berukuran 2.5 µm atau lebih kecil lagi. Ini merupakan salah satu komponen utama asap kebakaran hutan yang dapat melewati hidung, tenggorok, dan masuk jauh ke dalam paru, bahkan masuk dalam peredaran darah dan menimbulkan dampak buruk pada kesehatan. Dalam kelompok ini juga termasuk partikel amat kecil (ultrafine particles) yang berukuran di bawah 0.1 µm.
Partikel yang lebih besar, dengan diameter lebih dari 10 µm, memang tidak akan punya dampak besar bagi kesehatan paru, tetapi akan tetap mengiritasi mata, hidung, dan tenggorok. Sementara itu, yang ukurannya lebih besar dari 2.5, tapi lebih kecil dari 10 µm disebut PM10-2.5, yang utamanya dihasilkan akibat proses mekanik seperti pembangunan gedung, agak jarang pada asap kebakaran hutan.
Dampak
WHO menyebutkan bahwa dampak kesehatan kebakaran hutan mungkin dapat berhubungan dengan kematian prematur di masyarakat umum. Disebutkan pula bahwa asap kebakaran hutan dapat menyebabkan eksaserbasi penyakit paru, jantung, otak/sistem syaraf, kulit, usus, ginjal, mata, hidung, dan hati. Penelitian ilmiah jelas menunjukkan bahwa risiko respirasi dan kardiovaskular akan makin meningkat bila intensitas dan densitas asap kebakaran hutan juga terus bertambah.
WHO menyebutkan bahwa yang paling rentan terdampak akibat asap kebakaran hutan adalah anak-anak, wanita hamil, dan warga lanjut usia. US EPA secara lebih luas menyebutkan bahwa yang termasuk kelompok rentan meliputi mereka yang memang sudah ada penyakit paru dan pernapasan (respirasi) serta penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), kaum lansia, anak di bawah usia 18 tahun, wanita hamil, pekerja lapangan di area kebakaran hutan, dan masyarakat dengan status sosio ekonomi yang rendah.
WHO selalu bekerja bersama negara-negara anggotanya untuk melakukan mitigasi, kesiapan, dan respons pada kebakaran hutan ini.
Perlu juga kita ketahui bahwa setidaknya ada berbagai dampak dari asap kebakaran hutan, bahkan dalam jangka perndek, katakanlah dalam hitungan hari atau minggu-minggu pertama terpapar asap kebakaran hutan. Pertama, iritasi pada saluran napas, mata, dan kulit.
Kedua, akan dapat muncul berbagai gejala gangguan paru dan pernapasan, seperti batuk, berdahak, bahkan pada orang yang tadinya sepenuhnya sehat. Selanjutnya akan dapat terjadi napas berat, sesak napas, bunyi napas mengi, dll. Kemudian dapat terjadi peradangan/inflamasi paru, penurunan fungsi pernapasan, peningkatan risiko terjadinya eksaserbasi serangan asma, dan perburukan penyakit paru pernapasan lainnya.
Selain itu, akan ada peningkatan angka kunjungan ke instalasi gawat darurat (IGD) serta permintaan masuk rawat di rumah sakit. Polusi partikel asap kebakaran hutan juga dapat menurunkan kemampuan daya tahan tubuh untuk mengatasi infeksi akibat virus dan bakteri ke paru sehingga meingkatkan kemungkinan terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seperti bronkitis dan pneumonia.
Gangguan kardiovaskular dapat pula terjadi, utamanya karena terjadi peradangan dan stres sistem oksidatif pulmoner (pulmonary oxidative stress and inflammation) dan pemiciuan sistem saraf otonom (autonomic nervous system).
Laporan penelitian dari para pakar Amerika Serikat menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat menimbulkan dampak pada kesehatan mental, kesehatan repoduksi, sistem imunologi, dan tentunya berbagai dampak lebih luas akibat disruspi sosial dan finansial. Tentang dampak pada kehamilan, salah satu penelitian yang masih berskala kecil di California Amerika Serikat menunjukkan bahwa paparan asap pada kehamilan trimester dua dan tiga akan dapat memengaruhi penurunan berat badan bayi.
Penelitinya menyebutkan bahwa walaupun skalanya kecil, berat badan bayi lahir rendah tentu punya dampak jangka panjang dan diharapkan akan ada penelitian lebih lanjut di area ini agar dampaknya pada kesehatan maternal benar-benar dapat divalidasi secara ilmiah dan ditanggulangi dengan baik. Untuk dampak pada kesehatan mental, pernah pula ada laporan terjadinya gangguan stres pascakebakaran hutan dalam bentuk posttraumatic stress disorder (PTSD) dan depresi.
Partikel asap kebakaran hutan juga dapat mencemari sumber air penduduk, katakanlah pada desa dan daerah di sekitar hutan yang terbakar. Warga yang terpaksa menggunakan air itu untuk konsumsinya sehari-hari tentu akan menimbulkan dampak pula bagi kesehatannya.
Sebagai penutup, ada tiga hal yang dapat disampaikan. Pertama, cara utama mencegah dampak kesehatan pada warga kita akibat kebakaran hutan ialah dengan mencegah terjadinya kebakaran dan kalau sudah terjadi segera memadamkannya. Kedua, untuk masyarakat yang terpapar, diharapkan selalu menjaga status kesehatannya. Kalau ada sakit kronik (komorbid), selalu mengikuti anjuran penanganan penyakitnya dan kalau ada berbagai keluhan, segeralah menghubungi petugas kesehatan setempat. Hal ketiga, selain upaya pemadaman kebakaran hutan yang dilakukan, baik juga dilakukan penelitian dan analisis ilmiah mendalam untuk kita mengetahui patofisiologi dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan ini.
Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya, membentang dari April hingga Oktober.
Kebakaran hutan di Jepang, tepatnya di Otsuchi, Prefektur Iwate, menghanguskan 1.373 hektare lahan. 3.000 warga dievakuasi dan personel militer dikerahkan.
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mendorong penguatan langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul adanya potensi fenomena El Nino pada pertengahan tahun 2026.
BMKG mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Riau untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebelum puncak musim kemarau tiba.
Fenomena El Nino membuat musim kemarau 2026 datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering.
Sinergi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dinilai kian penting dalam menjawab tantangan pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia.
Jangan panik jika jadwal vaksin anak terlewat. Dokter spesialis anak jelaskan prosedur catch-up immunization atau imunisasi kejar untuk lindungi buah hati.
WHO merekomendasikan transisi dari vaksin influenza quadrivalent ke trivalent karena hilangnya virus B/Yamagata. Simak penjelasan medis dan dampaknya.
Vaksin influenza trivalen kembali menjadi standar global setelah WHO merekomendasikan penghapusan komponen garis keturunan B/Yamagata.
AI dan teknologi genomik mempercepat diagnosis penyakit langka. Inovasi ini membuka akses pengobatan lebih cepat bagi jutaan pasien di dunia.
Taiwan melaporkan capaian Gold Tier WHO dalam eliminasi hepatitis C dengan diagnosis 90,2% dan pengobatan 92,6%, mendekati target global 2030.
Indonesia pimpin suara Global South dalam negosiasi WHO Pandemic Agreement 2026. Cek latar belakangĀ Uni Eropa dinilai hambat kesetaraan akses kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved