Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITIAN terbaru memperingatkan diet rendah kalori dapat memicu depresi. Pria disebut lebih rentan terhadap efek negatif dari pembatasan makan.
Studi yang dipublikasikan dalam BMJ Nutrition Prevention and Health menunjukkan bahwa mengikuti diet rendah kalori dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala depresi.
Para ilmuwan menjelaskan diet sehat seperti mengkonsumsi makanan seperti buah dan sayuran segar, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, biji-bijian, protein rendah lemak, dan ikan, punya risiko depresi lebih rendah.
Sementara pola makan yang tidak sehat didominasi oleh makanan olahan, karbohidrat olahan, lemak jenuh, daging olahan, dan permen, memiliki risiko yang lebih tinggi pada depresi.
Penelitian ini mengamati data dari lebih dari 28.500 orang dewasa Amerika yang telah menyelesaikan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) yang menilai tingkat keparahan gejala depresi.
Kurang lebih 8% melaporkan gejala depresi, 29% memiliki berat badan yang sehat, 33% kelebihan berat badan, dan 38% mengalami obesitas klinis.
Para peserta ditanya apakah mereka mengikuti diet tertentu, baik untuk menurunkan berat badan atau karena alasan kesehatan lainnya. Jika ya, dari sembilan pilihan diet mana yang mereka jalani.
Sebagian besar peserta (87%) mengatakan mereka tidak menjalani diet tertentu, sementara 8% mengikuti diet ketat kalori, 3% diet ketat nutrisi, dan 2% menjalani pola makan yang mapan.
Proporsi pria yang mengatakan tidak sedang menjalani diet lebih besar (90%) daripada wanita (85%). Pembatasan kalori paling sering dilaporkan oleh peserta obesitas (12%) dan mereka yang kelebihan berat badan (8%). Sementara pola diet yang membatasi nutrisi dan pola makan yang mapan lebih jarang, dengan proporsi tertinggi pengguna pola makan mapan di antara peserta obesitas (3%).
Skor PHQ-9 0,29 poin lebih tinggi pada mereka yang menjalani diet pembatasan kalori daripada mereka yang tidak menjalani diet khusus apa pun.
Skor tersebut lebih tinggi di antara mereka yang kelebihan berat badan dan mengikuti diet ketat kalori. Skor PHQ-9 mereka 0,46 poin lebih tinggi, sementara diet ketat nutrisi dikaitkan dengan peningkatan skor PHQ-9 sebesar 0,61 poin.
Para peneliti mengatakan diet yang membatasi kalori juga dikaitkan dengan skor gejala kognitif-afektif yang lebih tinggi, yakni ukuran hubungan antara pikiran dan perasaan. Sementara diet yang membatasi nutrisi dikaitkan dengan skor gejala somatik yang lebih tinggi yakni tekanan dan kecemasan yang berlebihan tentang gejala fisik.
Penulis studi Dr Venkat Bhat, dari Universitas Toronto, mengatakan skor ini juga bervariasi menurut jenis kelamin.
"Diet yang membatasi nutrisi dikaitkan dengan skor gejala kognitif-afektif yang lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita yang tidak menjalani diet, sementara ketiga jenis diet dikaitkan dengan skor gejala somatik yang lebih tinggi pada pria," katanya, dilansir dari News Journal, Jumat (6/6).
"Dan orang yang mengalami obesitas yang mengikuti pola makan yang mapan memiliki skor gejala kognitif-afektif dan somatik yang lebih tinggi daripada mereka yang memiliki berat badan sehat yang tidak menjalani diet," imbuhnya.
Dr. Bhat mengatakan temuan tersebut bertentangan dengan penelitian yang diterbitkan sebelumnya yang menunjukkan bahwa diet rendah kalori dapat memperbaiki gejala depresi.
Ia berkata perbedaan ini mungkin muncul karena penelitian sebelumnya sebagian besar merupakan uji coba terkontrol secara acak. Dalam hal ini peserta mematuhi diet yang dirancang dengan cermat untuk memastikan asupan nutrisi yang seimbang.
“Sebaliknya, diet ketat kalori dan obesitas dalam kehidupan nyata sering kali mengakibatkan kekurangan nutrisi, terutama protein, vitamin/mineral esensial, dan memicu stres fisiologis, yang dapat memperburuk gejala depresi, termasuk gejala kognitif-afektif," paparnya.
Dr. Bhat mengatakan kemungkinan penjelasan lainnya adalah kegagalan menurunkan berat badan atau siklus berat badan, yakni menurunkan berat badan lalu menambahnya lagi.
Ia mengatakan kemungkinan penjelasan untuk perbedaan gender yang diamati mungkin karena glukosa dan asam lemak omega-3, yang penting untuk kesehatan otak.
Dr. Bhat menambahkan, "Diet rendah karbohidrat, glukosa atau lemak, omega-3, secara teoritis dapat memperburuk fungsi otak dan memperburuk gejala kognitif-afektif, terutama pada pria dengan kebutuhan nutrisi yang lebih besar."
Profesor Sumantra Ray, Kepala Ilmuwan dan Direktur Eksekutif NNEdPro Global Institute for Food, Nutrition and Health, menyambut baik temuan tersebut.
Ia berkata, studi ini menambah bukti yang muncul yang menghubungkan pola makan dan kesehatan mental. Dengan itu ia menimbulkan pertanyaan penting tentang apakah diet ketat, yang rendah nutrisi yang dianggap bermanfaat bagi kesehatan kognitif, seperti asam lemak omega-3 dan vitamin B12, dapat memicu gejala depresi.
“Namun, ukuran efeknya kecil, dengan keterbatasan statistik lebih lanjut yang membatasi generalisasi temuan," katanya.
Ray menambahkan, perlu penelitian lebih lanjut yang dirancang dengan baik yang secara akurat menangkap asupan makanan dan meminimalkan dampak peluang dan faktor pengganggu. (H-4)
Studi menunjukkan bahwa minum minuman bersoda secara rutin dapat memicu pertumbuhan bakteri usus yang dikaitkan dengan risiko depresi.
Studi terbaru dari Harvard Medical School menemukan bahwa mengonsumsi jeruk setiap hari dapat membantu menjaga suasana hati dan menurunkan risiko depresi hingga 20%.
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved