Bandung Cancer Society, Membangun Perempuan Tangguh di Antara Penyintas Kanker

Sugeng Sumariyadi
26/4/2026 12:35
Bandung Cancer Society, Membangun Perempuan Tangguh di Antara Penyintas Kanker
Bandung Cancer Society menggelar pertemuan para penyintas kanker untuk saling berbagi dan menguatkan(MI/SUMARIYADI)

DI salah satu sudut Kota Bandung, semangat Hari Kartini menemukan makna yang lebih dalam. Bukan sekadar kebaya dan seremoni, melainkan kisah nyata tentang perempuan-perempuan tangguh yang bangkit dari diagnosis mematikan, yakni kanker.

Melalui kegiatan bertajuk Inspirasi Bersama Kartini Masa Kini, Bandung Cancer Society (BCS) mempertemukan para penyintas dalam satu ruang. Berbagi, menguatkan, dan menyalakan harapan.

Di antara mereka, ada yang pernah kehilangan payudara, ada pula yang harus merelakan rahimnya diangkat. Namun, kehilangan itu tak memadamkan semangat hidup.

Ketua komunitas, Yanti Setiawadi berbicara tegas namun hangat. Baginya, menjadi perempuan penyintas kanker bukan akhir, melainkan awal dari peran baru.

“Cara ini, kita sebagai wanita itu jangan merasa rendah diri. Karena kita sebagai wanita, walaupun kita penyintas kanker, yang mungkin sudah kehilangan payudara atau kehilangan rahim, tapi kehidupan kita itu masih bisa bermanfaat, masih bisa berguna buat orang lain,” ujarnya di sela kegiatan bertajuk Inspirasi Bersama Kartini Masa Kini, dalam rangka memeringati Hari Kartini di Kota Bandung, Minggu (26/4).

Di ruang itu, stigma diluruhkan. Rasa minder dilawan. Yanti menegaskan bahwa pengalaman menghadapi kanker justru bisa menjadi bahan bakar untuk menguatkan sesama.

“Apa yang pernah kita alami, walaupun kita pernah kanker, tapi itu menjadi satu pemicu buat kita. Pemicu untuk semangat dan kita bisa berbagi dengan orang lain untuk menambah semangat mereka juga,” katanya.


Dari rasa sepi menuju rasa memiliki


Komunitas BCS ini lahir dari kebutuhan paling mendasar, tidak merasa sendirian. Sebab, bagi banyak pasien, kanker bukan hanya soal fisik, tapi juga mental dan sosial.

“Kita mendirikan komunitas ini, supaya kita bisa saling berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, merasa ada teman seperjuangan dan teman seperjalanan,” tutur Yanti.

Ia menyoroti risiko kesalahan informasi yang kerap dialami pasien ketika mencari jawaban sendiri.

“Daripada dia sendirian atau bergabung dengan orang yang tidak kena kanker, kemungkinan pengetahuannya itu bisa salah. Lebih-lebih kalau cuma baca dari Google,” tegasnya.

Kini, Bandung Cancer Society telah memiliki lebih dari 600 anggota, tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat seperti Sukabumi dan Garut. Jumlah itu belum termasuk pasien yang pernah singgah di rumah singgah mereka.

“Jadi mereka tidak merasa sakit sendiri. Kita yang terdaftar itu enam ratusan, di luar dari pasien yang pernah nginep di rumah singgah,” ungkapnya.


Rumah singgah, rumah harapan


Di balik aktivitas komunitas, ada satu denyut kemanusiaan yang terus berdetak, Rumah Singgah Kasih. Tempat ini menjadi pelabuhan sementara bagi pasien kanker dari luar kota yang tengah berjuang menjalani pengobatan di Bandung.

Dengan biaya yang nyaris simbolis, mereka bisa bertahan di tengah proses medis yang panjang dan melelahkan.

“Mereka bisa mendapatkan nasi dan air minum. Mereka hanya bayar Rp10.000 untuk dua orang, untuk pendamping. Terserah mereka mau tinggal di situ berapa lama,” jelas Yanti.

Selama 11 tahun berdiri, sekitar 2.000 pasien telah keluar-masuk rumah singgah ini untuk menghadapi operasi, kemoterapi, hingga radioterapi yang bisa memakan waktu hingga satu setengah bulan. Namun di balik dedikasi itu, ada keterbatasan yang tak bisa diabaikan.

“Donasi dana kita hanya dari mulut ke mulut. Untuk itu mungkin kalau ada yang mau berdonasi, bisa kontak kita. Bisa berbentuknya tidak selalu uang. Bisa berbentuk hanya sayur, buah,” ujarnya.


Deteksi dini, kunci harapan


Cerita perjuangan ini juga diperkuat oleh suara penyintas sekaligus tenaga medis, Theresia Monica Rahardjo. Ia mengingatkan bahwa kekuatan mental harus berjalan beriringan dengan kesadaran medis.

“Yang pertama itu harus selalu kuat. Juga harus selalu penuh motivasi dan memberikan dampak positif kepada di sekitarnya,” ujarnya.

Menurut dia, banyak kasus kanker terlambat ditangani karena rasa tabu dan ketakutan untuk memeriksakan diri.

“Jangan merasa tabu karena banyak yang masih sungkan untuk kontrol. Entah kanker payudara, kanker leher rahim, atau kanker lainnya,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan rutin, seperti mamografi dan USG untuk kanker payudara pada usia 40 tahun ke atas, serta pap smear tahunan untuk kanker leher rahim.

“Bila dideteksi kanker itu sebaiknya mengikuti pengobatan secara teratur. Jangan menunda-nunda. Karena terapi pada saat awal, stadium awal itu tingkat kesembuhannya lebih besar,” jelasnya.


Kartini masa kini


Di tengah riuh peringatan Hari Kartini, para perempuan ini membuktikan bahwa emansipasi bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga tentang keberanian menghadapi realitas hidup.

Mereka adalah Kartini masa kini yang melawan bukan penjajahan, tetapi rasa takut, stigma, dan keterbatasan.

Dari luka yang pernah ada, mereka menjahit harapan. Dari rasa sepi, mereka membangun solidaritas. Dari kanker, mereka menemukan makna baru tentang hidup, yakni saling menguatkan, tanpa syarat.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner