Praktisi Pendidikan Menilai Ada Krisis Etika dan Karakter di Sekolah di Purwakarta

Reza Sunarya
19/4/2026 19:24
Praktisi Pendidikan Menilai Ada Krisis Etika dan Karakter di Sekolah di Purwakarta
Praktisi pendidikan dari Purwakarta, Agus Muharam(MI/REZA SUNARYA)

VIDEO viral yang memperlihatkan sejumlah siswa SMA mengacungkan jari tengah kepada guru menuai sorotan luas dari berbagai kalangan. Peristiwa tersebut dinilai mencerminkan adanya krisis etika dan karakter di lingkungan pendidikan.

Praktisi Pendidikan Agus Muharam menyatakan kasus itu merupakan  dampak negatif penyalahgunaan media sosial oleh siswa. Fenomena ini tidak lepas dari kurangnya pengawasan dan pembinaan dari berbagai pihak.

"Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, baik sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Orangtua harus lebih peduli dan menanamkan adab kepada anak, terutama dalam bersikap kepada guru," paparnya, Minggu (19/4).

Peristiwa tersebut dinilai mencerminkan adanya krisis etika dan karakter di lingkungan pendidikan.


Menutur mantan Wakil ketua UPI Purwakarta itu, pendidikan sejatinya merupakan upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh, baik dari aspek intelektual maupun spiritual. Guru memiliki peran penting sebagai pendidik, pengajar, sekaligus teladan bagi siswa.

Oleh karena itu, tindakan tidak pantas terhadap guru sangat disayangkan.

“Guru itu panutan. Ketika berada di depan kelas, ia menjadi contoh bagi siswa. Maka tidak layak jika ada perilaku seperti dalam video tersebut. Sebagai pendidik dan dosen, saya merasa kecewa,” tandasnya.

Agus menyebutkan kemampuan siswa dalam menggunakan media sosial yang tidak diimbangi dengan kontrol diri dapat memicu tindakan yang tidak bijak, termasuk merekam dan menyebarluaskan perilaku yang tidak pantas.

Meningkatnya laporan terhadap guru oleh orangtua, lajut dia, menunjukkan perlunya keseimbangan dalam perlindungan terhadap guru.

“Saat guru sedikit melakukan kesalahan bisa langsung dilaporkan. Ini berdampak pada menurunnya wibawa guru. Namun, langkah hukum sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Yang utama adalah membangun komunikasi dan kerja sama antara guru, orangtua, dan siswa," tegasnya.

Agus juga menyoroti keterlibatan pihak eksternal seperti TNI dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) belum tentu efektif dalam membentuk kedisiplinan.

“Menurut saya, guru sudah cukup untuk menanamkan disiplin. Keterlibatan TNI di sekolah justru bisa berdampak kurang baik jika tidak tepat penerapannya,” ungkapnya.

Dia berpesan kepada Dinas Pendidikan Jawa Barat agar terus memperkuat pembinaan karakter di sekolah. Ia menyinggung pentingnya penerapan konsep “Pancawalu” yakni cageur, bageur, bener, pinter, dan singer dalam dunia pendidikan.

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner