Pasien Campak di RSD Gunung Jati Meningkat

Nurul Hidayah    
17/4/2026 18:40
Pasien Campak di RSD Gunung Jati Meningkat
RSUD Gunung Jati(MI/Nurul Hidayah)

SEBANYAK dua pasien campak yang dirawat di RSD Gunung Jati, Kota Cirebon meninggal dunia. Menghindari penularan, pasien campak dipisahkan dengan pasien lainnya. 

“Kami siapkan tata laksana secara menyeluruh, baik sumber daya manusia maupun sarana untuk pasien campak. Kami lakukan sistem kohorting, di ruang rawat inap kami sediakan ruang isolasi di tiap gedung supaya penularan bisa diminimalkan,” tutur Direktur Utama RSD Gunung Jati, dr Katibi, Jumat (17/4). 

Dijelaskan Katibi dalam tiga bulan terakhir, mereka telah menerima 50 pasien. Terdiri dari 26 pasien pada Januari, 19 pasien pada Februari dan Maret meningkat hingga menjadi sekitar 50 pasien yang dirawat. “Mereka ini yang menjalani perawatan intensif. Dari jumlah itu, dua pasien meninggal dunia,” tutur Katibi. Sedangkan untuk pasien yang rawat jalan menurut Katibi jumlahnya relatif lebih sedikit yaitu enam orang. 
 
Tingginya angka pasien rujukan ke rumah sakit, lanjut Katibi, menunjukkan potensi kasus di tingkat layanan kesehatan dasar maupun masyarakat sebenarnya lebih besar. “Kalau yang sampai ke rumah sakit rujukan saja sudah sebanyak itu, kemungkinan di puskesmas atau di masyarakat jumlahnya bisa lebih banyak,” tutur Katibi. 

Sementara itu, dokter spesialis anak RSD Gunung Jati, dr Suci Saptyuni Permadi menjelaskan untuk dua pasien yang meninggal,  merupakan anak usia di bawah lima tahun. Salah satu pasien  meninggal dalam waktu kurang dari 24 jam setelah dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Pasien tersebut datang dengan demam tinggi, sesak napas, dan ruam.”Kondisinya cepat memburuk, kemudian dirawat di ICU, namun tidak tertolong,” tutur Suci. 

Selain itu, untuk dua pasien yang meninggal juga ditemukan beberapa  faktor pemberat. “Satu dengan gizi buruk, satu lagi dengan kelainan jantung bawaan,” tutur Suci. Keduanya juga tidak mendapatkan imunisasi dengan lengkap. 

Ditambahkan Suci, tidak semua pasien campak harus menjalani perawatan.  Namun pasien dengan gejala berat atau komplikasi wajib mendapatkan penanganan intensif.  Indikasi rawat biasanya karena demam tinggi, dehidrasi, atau sudah muncul komplikasi. “Yang paling sering kami temukan sekarang adalah bronkopneumonia atau radang paru,” tutur Suci

Selanjutnya terdapat tren penularan juga mulai terlihat pada kelompok usia remaja. Hal ini terjadi akibat penularan dalam lingkungan keluarga, terutama dari adik yang lebih kecil dan belum divaksin. 

Untuk mencegah penyebaran campak, pihak rumah sakit menekankan pentingnya imunisasi campak sesuai jadwal, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta penguat saat usia sekolah dasar. “Kalau anak sudah divaksin lengkap, biasanya gejalanya lebih ringan dan tidak sampai dirawat,” tutur Suci. (UL/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner