Tingkatkan Kualitas Hunian, UPI Renovasi Rumah tak Layak Huni Warga Desa Mekarsari

Naviandri
13/4/2026 18:59
Tingkatkan Kualitas Hunian, UPI Renovasi Rumah tak Layak Huni Warga Desa Mekarsari
Rektor UPI Prof Didi Sukyadi bersama sivitas akademika di depan rumah Emak Tati yang sudah direnovasi dan terpasang listrik bertenaga surya.(MI/NAVIANDRI)

UNIVERSITAS Pendidikan Indonesia (UPI) menyelesaikan program renovasi rumah milik Mak Tati, seorang warga di Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Rumah yang berdiri sekitar 20 tahun lalu itu dalam kondisi tidak layak huni karena penghuninya merupakan masyarakat dengan kondisi ekonomi miskin ekstreem.

Serah terima rumah yang dilakukan pada Senin (6/4) dihadiri oleh Rektor UPI  Prof Didi Sukyadi, serta perwakilan alumni. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat berbasis energi terbarukan dan peningkatan kualitas hunian.

Selama dua dekade, Mak Tati yang berusia hampir 70 tahun ini hidup dalam keterbatasan tanpa akses listrik dan menempati rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas hidup, terutama dalam aspek keamanan, kesehatan, dan aktivitas sehari-hari.

“Dulu kalau hujan emak suka mengungsi ke rumah tetangga karena pasti bocor di sana sini, suka takut rumah rubuh juga rumah benar-benar gelap. Bahkan sampai sekitar 20 tahun tidak ada penerangan listrik,” kenangnya.

Ketiadaan listrik membuat aktivitas malam hari sangat terbatas. Penerangan hanya mengandalkan lampu minyak dan alat tradisional, sedangkan kondisi rumah yang rusak meningkatkan kerentanan terhadap cuaca dan risiko lainnya.

Kini, perubahan kondisi rumah dan adanya listrik membawa dampak langsung terhadap rasa aman dan kenyamanan.

“Biasanya kalau malam, Emak masih suka mendengar suara celeng di sekitar rumah, sekarang kondisinya sudah lebih aman karena ada penerangan,” imbuhnya.


Satu minggu


Rektor UPI Prof Didi Sukyadi menyebut bahwa kondisi yang dialami Emak Tati merupakan bagian dari persoalan struktural yang masih dihadapi sebagian masyarakat, khususnya terkait akses listrik. Masih banyak masyarakat yang belum menikmati listrik, meskipun infrastruktur sudah tersedia. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan biaya untuk instalasi dan pembayaran listrik bulanan.

"Sebagai solusi, kami mengimplementasikan sistem listrik mandiri berbasis tenaga surya yang memungkinkan masyarakat memperoleh akses energi tanpa biaya operasional. Sistem ini memanfaatkan panel surya dan baterai sebagai sumber penyimpanan energi," tuturnya.

Menurut dia, proses pembangunan rumah Mak Tati dilakukan secara intensif dan selesai dalam waktu sekitar satu minggu.

Ketua pelaksana program, Yaya Sonjaya, menyampaikan pembangunan dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.

“Pembangunan rumah ini kami targetkan selesai dalam satu minggu dan alhamdulillah dapat tercapai sesuai rencana melalui kerja sama dengan masyarakat setempat,” tandasnya.

Perwakilan alumni, Asep Haluesna  yang turut hadir serta memberikan bantuan 10 unit panel surya kepada masyarakat menyampaikan bahwa kolaborasi antara alumni dan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam memperluas dampak program sosial. Program ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan manfaat kepada masyarakat melalui kolaborasi.

"Meskipun telah terjadi peningkatan kondisi hunian dan akses energi, kebutuhan dasar lain seperti air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat," katanya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner