Arista Montana Menjaga Ketahanan Pangan Lokal Berbasis Kearifan Baduy

Sugeng Sumariyadi
12/4/2026 13:52
Arista Montana Menjaga Ketahanan Pangan Lokal Berbasis Kearifan Baduy
Petani Baduy membawa padi hasil panen untuk disimpan di leuit(ISTIMEWA)

KABUT tipis menyelimuti hamparan lahan milik Arista Montana saat musim panen usai. Di tengah suasana yang tenang, proses panjang budidaya padi huma mencapai satu fase penting, namun bukan akhir dari perjalanan pangan itu sendiri.

“Panen telah usai, namun perjalanan padi huma belum berakhir,” ungkap Andy Utama, pemilik Arista Montana yang selama dua dekade lebih fokus pada pengembangan pertanian organik dan konservasi alam.

Padi huma, yang ditanam dengan pendekatan organik dan mengikuti ritme alam, melalui siklus yang tidak singkat. Padi huma ditanam tanpa eksploitasi berlebihan terhadap tanah, dirawat dengan kesabaran, dan dipanen sebagai hasil dari keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Namun, yang membedakan Arista Montana bukan hanya pada cara menanam, melainkan pada bagaimana mereka memperlakukan hasil panen itu sendiri. Alih-alih segera melepas hasil panen ke pasar atau mengonsumsinya secara langsung, padi huma justru dibawa ke tempat penyimpanan.

Proses ini dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa hasil panen bukan sekadar komoditas, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga.

“Butir-butir padi ini tidak langsung dihabiskan. Dia dibawa menuju rumah, tempat kehidupan dijaga,” lanjut Andy.


Di titik inilah Arista Montana menunjukkan pendekatan yang berbeda dari praktik pertanian konvensional. Penyimpanan hasil panen dilakukan secara terukur, tidak berlebihan namun cukup untuk memastikan keberlangsungan kebutuhan di masa depan.

Cadangan pangan diposisikan sebagai elemen strategis, bukan sebagai sisa produksi.


Sistem leuit


Andy menambahkan bahwa padi huma tersebut bukan sekadar untuk persediaan, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.

Pendekatan ini merujuk pada praktik kearifan lokal masyarakat Baduy melalui sistem leuit, yaitu lumbung padi tradisional yang telah lama menjadi fondasi ketahanan pangan komunitas adat.

Dalam tradisi Baduy, leuit tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi sebagai institusi yang mengatur hubungan antara produksi, konsumsi, dan keberlanjutan.

Dalam sistem leuit, padi disimpan dalam bentuk gabah dan dijaga sebagai cadangan jangka panjang. Tidak semua hasil panen dilepas ke pasar.

Sebaliknya, sebagian disisihkan secara disiplin untuk memastikan bahwa komunitas memiliki stok pangan yang cukup ketika menghadapi masa sulit, seperti gagal panen atau gangguan distribusi.

Prinsip “menyimpan secukupnya” menjadi inti dari model ini. Jadi tidak melakukan akumulasi tanpa batas, melainkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan keberlanjutan di masa depan.

Dalam konteks ini, ketahanan pangan tidak dibangun melalui surplus produksi, tetapi melalui kemampuan mengelola cadangan secara bijak.

Sejumlah literatur akademik menguatkan bahwa sistem leuit merupakan model ketahanan pangan yang telah teruji.

Jan Permata dalam tulisannya di Jurnal Bina tahun 2025 menjelaskan bahwa keberadaan leuit memungkinkan masyarakat menjaga ketersediaan pangan lintas musim dan mengurangi kerentanan terhadap krisis.

Temuan tersebut diperkuat oleh tesis Ahmad Fauzi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang menunjukkan bahwa masyarakat Baduy menerapkan aturan ketat dalam pengelolaan pangan. Sebagian hasil panen wajib disimpan, sedangkan konsumsi diatur agar tidak menghabiskan cadangan yang ada.

Dari sisi teknis, model leuit juga terbukti efektif. Mirajiani dan Widiati dalam penelitian mereka yang diterbitkan di Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat tahun 2022 mencatat bahwa padi yang disimpan dalam leuit mampu bertahan hingga bertahun-tahun tanpa kehilangan kualitas konsumsi.

Hal ini menjadikan leuit sebagai bentuk cadangan pangan jangka panjang yang stabil dan minim risiko.

Lebih jauh, Hakiki dalam tulisan “Leuit Baduy: Simbol Estetika, Ketahanan Pangan, dan Religi” yang terbit tahun 2025 menunjukkan bahwa leuit tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga sebagai institusi sosial yang mengintegrasikan nilai ekonomi, budaya, dan spiritual.

Dalam sistem ini, pengelolaan pangan bukan hanya soal logistik, tetapi juga bagian dari etika hidup komunitas.

 

Kearifan lokal dalam pertanian modern

 

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip tersebut, Arista Montana pada dasarnya sedang mereaktualisasi kearifan lokal dalam konteks pertanian modern. Model ini menjadi relevan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari perubahan iklim hingga gangguan rantai pasok pangan.

Berbeda dengan pendekatan dominan yang menitikberatkan pada peningkatan produksi skala besar, model berbasis leuit menunjukkan bahwa ketahanan pangan juga dapat dibangun dari bawah, melalui komunitas yang memiliki kendali atas produksi dan cadangan mereka sendiri.

Pendekatan ini sekaligus menawarkan koreksi terhadap paradigma pangan yang terlalu berorientasi pada pasar. Ketika distribusi terganggu atau harga berfluktuasi, komunitas yang memiliki cadangan pangan sendiri cenderung lebih tahan terhadap guncangan.

Andy menegaskan filosofi tersebut yang nampaknya sederhana, namun sebenarnya sangat kuat bahwa “Menyimpan bukan sekadar menahan, melainkan merawat kehidupan”.

Dalam konteks yang lebih luas, praktik yang dikembangkan Arista Montana menunjukkan bahwa solusi ketahanan pangan tidak selalu harus datang dari inovasi teknologi tinggi atau intervensi skala besar.

Justru, dia dapat berakar dari pengetahuan lokal yang telah teruji oleh waktu, selama mampu diadaptasi dengan konteks kekinian.

Di tengah tekanan terhadap sistem pangan global yang semakin kompleks, model leuit menawarkan pelajaran mendasar bahwa ketahanan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang diproduksi, tetapi oleh seberapa bijak pangan tersebut dikelola.

Di sinilah letak kekuatannya. Pada kemampuan untuk menjaga yang cukup, demi memastikan yang berkelanjutan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner