Proyek Strategis Nasional, DPRD Inginkan BRT Bandung Berkualitas Bintang Lima

Bayu Anggoro
11/4/2026 19:43
Proyek Strategis Nasional, DPRD Inginkan BRT Bandung Berkualitas Bintang Lima
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung dari Partai NasDem Uung Tanuwidjaja(MI/BAYU ANGGORO)

PEMERINTAH diminta serius dalam mengerjakan bus rapid transit (BRT) di wilayah Bandung Raya. Selain bisa menjadi solusi kemacetan, hal itu dirasa penting mengingat pekerjaan tersebut menjadi salah satu proyek strategis nasional (PSN).

Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Uung Tanuwidjaja, mendesak Pemerintah Kota Bandung dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk segera menyelaraskan persepsi melalui pembahasan bersama yang intensif. Alasannya agar anggaran besar yang dikeluarkan berbanding lurus dengan hasil di lapangan.

Dia berharap kualitas infrastruktur moda transportasi massal ini harus memenuhi standard 'bintang lima'.

"Jangan sampai ada pembangunan fisik, tapi hasilnya jelek. Anggarannya bintang lima, jangan sampai hasilnya kaki lima," kata Uung di Bandung, Sabtu (11/4).

Dia mengingatkan bahwa status BRT sebagai proyek strategis nasional menuntut standard kualitas yang tinggi. Pengerjaan infrastruktur ini jangan sampai mengalami kendala teknis maupun keterlambatan signifikan, berkaca pada sejumlah proyek sebelumnya seperti Jalan Layang Nurtanio.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat sebelumnya Pemerintah Kota Bandung sempat membekukan sementara izin pembangunan proyek tersebut menyusul temuan ketidaksesuaian kualitas pengerjaan di lapangan.


Dampak sosial


Selain aspek konstruksi, politisi Partai NasDem ini juga menyoroti potensi dampak sosial dan kepadatan lalu lintas, terutama di koridor sempit seperti Jalan Sudirman.

Penambahan jalur khusus BRT di kawasan tersebut dikhawatirkan memicu kemacetan baru jika tidak dimitigasi dengan matang.

"Jalan Sudirman itu sudah sempit, ditambah lagi ada trotoar. Dengan masuknya jalur BRT, potensi kemacetan akan semakin besar," katanya.

Persoalan lainnya adalah keberadaan pasar tumpah di kawasan Andir dan Ciroyom. Mengingat BRT direncanakan mulai beroperasi pada pukul 06.00 WIB atau saat aktivitas pasar masih berlangsung, koordinasi lintas sektor menjadi harga mati.

"Dikhawatirkan akan menimbulkan dampak sosial. Karena itu, sosialisasi kepada masyarakat harus terus dilakukan secara masif hingga proyek ini diluncurkan," kata Uung.

Dia berharap kajian hambatan di lapangan dapat diselesaikan sehingga pembangunan berjalan sesuai standar nasional. "Kalau dikerjakan dengan baik, BRT akan menjadi solusi transportasi yang mumpuni, tepat waktu, dan efisien bagi warga Kota Bandung," katanya.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Sugeng
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner