Harga Naik, Pedagang Plastik Beli Dalam Jumlah Terbatas

Nurul Hidayah    
08/4/2026 19:37
Harga Naik, Pedagang Plastik Beli Dalam Jumlah Terbatas
Pembeli memilih kemasan plastik di toko ritel Wijaya Pangan, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026).(Antara)

ALAMI kenaikan harga cukup tinggi, pedagang plastik mengalami penurunan omzet yang cukup tinggi. 

Seperti terjadi di Pasar Kadipaten menunjukkan harga berbagai jenis bahan plastik mengalami kenaikan tajam hingga dua kali lipat. Kenaikan terjadi hampir di seluruh produk, mulai dari sedotan, kantong plastik, plastik es, gelas cup, dan lainnya. 

“Lonjakan harga terjadi secara menyeluruh dalam waktu singkat. Situasi ini memaksa pedagang lebih berhati-hati dalam mengatur pembelian barang agar kami tidak merugi,” tutur Tresna, seorang pedagang plastik di pasar tersebut, Rabu (8/4). 

Dijelaskan Tresna, kenaikan plastik mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa dan hingga kini masih terus berlangsung dengan perubahan yang sulit diprediksi. 

“Lonjakan harga membuat kebutuhan modal meningkat drastis untuk mendapatkan jumlah barang yang sama,” tutur Tresna. 

Jika sebelumnya dengan modal Rp2,5 juta bisa memperoleh sekitar 10 dus barang, kini dibutuhkan hingga Rp5 juta.

“Sekarang terpaksa belanja tiap hari supaya bisa mengikuti perubahan harga. Kenaikannya cepat berubah, kadang hari ini beli, besok sudah beda lagi,” tutur Tresna. Kondisi inilah yang membuat penjual seperti mereka pusing. 

Dampak kenaikan harga plastik turut dirasakan pelaku usaha minuman, khususnya penjual es yang bergantung pada bahan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi memaksa sebagian pedagang menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan.

Muhammad Rizki, pedagang es, menuturkan kenaikan harga bahan baku terjadi cukup signifikan dan berlangsung hampir setiap hari. “Kenaikannya cukup tinggi dan terus berubah. Bahkan yang naik bukan cuma plastik, bahan lain seperti buah juga ikut naik,” katanya.

Ia mengaku menaikkan harga jual produknya dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per cup untuk menutupi kenaikan biaya produksi, meski kenaikan bahan baku mencapai sekitar 50 persen. 

“Kalau tidak dinaikkan, tidak nutup modal. Tapi saya hanya naikkan sekitar 20 persen supaya masih terjangkau,” tutur Rizki. 

Namun Rizki juga mengaku, meski telah melakukan penyesuaian harga, ia menyebut omzet penjualan tetap menurun akibat melemahnya daya beli masyarakat. (UL/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner