Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Biji Plastik Dua Kali Lipat di Tasikmalaya

Kristiadi
07/4/2026 21:20
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Biji Plastik Dua Kali Lipat di Tasikmalaya
Pengusaha plastik dollar Kota Tasikmalaya mengeluhkan bahan baku industri plastik mengalami kenaikan dua kali lipat hingga menyebabkan permintaan pasar menurun dan perusahan kurangi jumlah produksi.(MI/Kristiadi)

INDUSTRI plastik di Kota Tasikmalaya mulai merasakan dampak serius dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kenaikan harga bahan baku yang mencapai dua kali lipat memaksa para pelaku usaha mengurangi volume produksi akibat menurunnya permintaan pasar.

Pengusaha plastik asal Kota Tasikmalaya, Lungnajaya, mengungkapkan bahwa ketegangan militer di kawasan tersebut telah mengganggu rantai pasok global dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Hal ini berdampak langsung pada biaya produksi petrokimia yang merupakan komponen utama pembuatan biji plastik.

"Bahan baku plastik merangkak naik. Meskipun pemerintah tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), tekanan global tetap berpengaruh langsung, terutama pada rantai pasok. Kenaikan harga dipicu oleh terganggunya distribusi minyak dan gas dunia," ujar Lungnajaya, Selasa (7/4).

Beban Produksi dan Penurunan Daya Beli

Menurut Lungnajaya, kondisi saat ini diperparah dengan meningkatnya biaya logistik dan risiko keamanan di jalur perdagangan internasional. Hal ini menyebabkan harga biji plastik di tingkat produsen melonjak hingga 100 persen atau dua kali lipat dari harga normal.

Namun, kenaikan beban produksi tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Pelaku usaha mengaku hanya mampu menaikkan harga jual di kisaran 60 persen untuk menjaga daya beli, meski dampaknya pasar tetap menunjukkan kelesuan.

Kondisi Industri Plastik Tasikmalaya:
  • Kenaikan harga biji plastik: 100% (dua kali lipat).
  • Penyesuaian harga jual konsumen: +/- 60%.
  • Sistem transaksi bahan baku: Wajib tunai (cash).
  • Status produksi: Pengurangan volume produksi.

"Di pasaran, permintaan plastik sudah mulai sepi karena harganya naik cukup tinggi. Kami terpaksa mengurangi jumlah produksi karena permintaan barang berkurang," tambahnya.

Ancaman Kelangkaan Bahan Baku

Selain persoalan harga, para pengusaha kini mulai mengkhawatirkan potensi kelangkaan barang jika konflik di Timur Tengah tidak kunjung mereda. Saat ini, meski pasokan masih tersedia, prosedur perolehan bahan baku menjadi lebih ketat dan menuntut pembayaran secara tunai.

Lungnajaya menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya masih berupaya mempertahankan para karyawan di tengah efisiensi produksi yang dilakukan. Ia berharap stabilitas geopolitik di Timur Tengah segera pulih agar distribusi komoditas energi dan bahan baku industri kembali normal.

"Kami sangat berharap perang di kawasan Timur Tengah segera berakhir agar kelancaran produksi dan stabilitas harga dapat kembali terjaga," pungkasnya. (AD/E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya

Bisnis

Wisata
Kuliner