Donald Trump Ungkap ke 60 Minutes, Tidak Khawatir Aksi Penembakan di Jamuan Wartawan

Thalatie K Yani
27/4/2026 08:05
Donald Trump Ungkap ke 60 Minutes, Tidak Khawatir Aksi Penembakan di Jamuan Wartawan
Donald Trump ungkap kronologi penembakan di jamuan wartawan Gedung Putih dalam wawancara 60 Minutes. (White House)

PRESIDEN Donald Trump membagikan pengalaman mencekamnya saat insiden penembakan pecah di Hotel Washington Hilton pada Sabtu malam. Dalam wawancara eksklusif bersama Norah O'Donnell di program 60 Minutes yang ditayangkan Minggu malam, Trump menceritakan detik-detik saat ia harus dievakuasi oleh tim pengamanan.

Meskipun pelaku melepaskan tembakan di area hotel, ia tidak berhasil menembus ruang dansa di lantai bawah tempat Trump sedang duduk. Menanggapi situasi tersebut, Trump berbicara dengan nada tenang dan mengaku tidak merasa terlalu khawatir saat peristiwa itu terjadi.

"Saya tidak khawatir," ujar Trump saat ditanya mengenai kemungkinan dirinya terluka. "Saya memahami kehidupan. Kita hidup di dunia yang gila."

Sempat Memperlambat Evakuasi

Trump mengakui rasa penasaran pribadinya sempat memperlambat upaya Secret Service untuk membawanya ke lokasi aman. Ia mengaku ingin melihat langsung apa yang sedang terjadi sebelum menyadari suara tersebut bukanlah kebisingan biasa di ruang acara.

"Saya ingin melihat apa yang terjadi. Saya tidak memudahkannya bagi mereka. Saya ingin melihat apa yang sedang berlangsung. Dan pada saat itu kami mulai menyadari bahwa mungkin itu masalah buruk, jenis masalah yang berbeda, dan berbeda dari suara normal di ruang dansa," ungkap Trump.

Ia menambahkan, "Saya dikelilingi oleh orang-orang hebat. Dan saya mungkin membuat mereka bertindak sedikit lebih lambat. Saya bilang, 'Tunggu sebentar, tunggu sebentar'."

Meski demikian, petugas Secret Service berulangkali memerintahkan Presiden dan Ibu Negara, Melania Trump, untuk segera tiarap di lantai. "Saya mulai berjalan, dan mereka berkata, 'Tolong turun, tolong tiarap di lantai.' Jadi saya turun dan Ibu Negara juga ikut tiarap," kenangnya.

Motif Politik dan "Manifesto" Pelaku

Petugas penegak hukum berhasil menangkap tersangka di lokasi setelah terlibat adu tembak. Pelaku diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen, 31, asal Torrance, California, yang membawa pisau, senapan, dan pistol.

Jaksa Agung Sementara, Todd Blanche, menyatakan bahwa serangan tersebut tampaknya bermotif politik dan menargetkan jajaran pejabat administrasi. Allen dilaporkan mengirimkan tulisan sepanjang 1.100 kata kepada keluarganya yang disebut-sebut sebagai sebuah "manifesto" dengan tanda tangan "Friendly Federal Assassin".

Suasana wawancara sempat memanas ketika O'Donnell membacakan bagian dari manifesto tersebut yang berisi hinaan berat kepada Trump. Menanggapi hal itu, Trump mengecam pembacaan kutipan tersebut di televisi.

"Ya dia menulis itu, saya bukan seorang pemerkosa... Saya membaca manifesto itu. Anda tahu, dia adalah orang sakit. Anda tidak seharusnya membacakan itu di 60 Minutes, Anda adalah aib, tapi silakan, mari kita selesaikan wawancara ini," ketus Trump.

Permintaan Menjadwal Ulang Acara

Meski kerap melontarkan kritik keras terhadap media, Trump mendesak White House Correspondents' Association untuk menjadwalkan ulang acara tersebut dalam 30 hari ke depan. Ia menegaskan tidak ingin aksi kriminal menghentikan kegiatan nasional.

"Saya tidak ingin melihatnya dibatalkan. Saya pikir sangat buruk bagi orang gila untuk bisa membatalkan sesuatu seperti ini," tegasnya. Namun, ia menambahkan dengan gaya khasnya, "Bukan berarti saya ingin pergi. Saya sangat sibuk. Saya tidak butuh itu." (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya