Kesaksian Mencekam Jurnalis di Lokasi Penembakan Trump, Suara Dentuman Itu Sangat Dikenal

Thalatie K Yani
26/4/2026 12:38
Kesaksian Mencekam Jurnalis di Lokasi Penembakan Trump, Suara Dentuman Itu Sangat Dikenal
Tangkapan layar suasana penembakan(AFP)

SUASANA jamuan makan malam di Washington Hilton yang semula tenang berubah menjadi horor dalam hitungan detik. Gary O'Donoghue, koresponden utama Amerika Utara yang berada di lokasi, membagikan kesaksian mencekam saat rentetan tembakan menyasar area gala media yang dihadiri Presiden Donald Trump.

Sebagai seorang jurnalis tunanetra, O'Donoghue sangat mengandalkan pendengarannya. Ia mengaku sempat ragu saat mendengar suara dentuman dari arah pintu masuk utama ruang dansa (ballroom). Namun, nalurinya sebagai jurnalis yang juga meliput penembakan Trump di Butler pada 2024 segera memberi peringatan.

"Dalam sekejap, saya berpikir, itu adalah suara dentuman rendah yang dihasilkan oleh senjata semi-otomatis. Saya mendengar suara kaca pecah," ujar O'Donoghue.

Detik-detik di Bawah Meja

Kepanikan meledak saat rekan kerjanya, Daniel, mendadak merunduk ke lantai. O'Donoghue segera mengikuti langkah tersebut, berlindung di balik taplak meja di tengah riuhnya teriakan dan langkah kaki orang-orang yang berlarian.

Di atas panggung, agen Secret Service bergerak cepat mengevakuasi Presiden Trump, Ibu Negara Melania Trump, dan Wakil Presiden JD Vance. Agen lainnya bersiaga dengan helm dan rompi antipeluru, mengarahkan senjata ke arah kerumunan untuk mencari ancaman tambahan.

Kondisi di dalam ruangan sangat kontras. Di satu sisi, para pejabat tinggi seperti Direktur FBI Kash Patel terlihat tiarap di lantai untuk melindungi pasangannya. Di sisi lain, ribuan tamu undangan dicekam ketakutan, menunggu apakah pelaku akan merangsek masuk ke dalam ruangan yang berisi sekitar 2.500 orang tersebut.

Sorotan pada Celah Keamanan

Satu hal yang menjadi perhatian besar O'Donoghue adalah longgarnya prosedur keamanan di lokasi acara. Meski jalanan di sekitar hotel telah ditutup oleh aparat penegak hukum selama berjam-jam, pemeriksaan di dalam gedung dinilai sangat tidak memadai.

Ia menceritakan bahwa petugas di pintu masuk hanya melihat tiketnya secara sekilas dari jarak jauh. Bahkan, saat melalui pemeriksaan detektor logam genggam (wanding), petugas tidak menaruh minat pada bunyi peringatan yang berasal dari saku jaketnya.

"Singkatnya, keamanannya terasa seperti jamuan makan malam koresponden Gedung Putih biasa, seperti acara yang tidak dihadiri oleh presiden yang sedang menjabat," ungkapnya kritis.

Trauma yang Berulang

Bagi O'Donoghue, ini adalah kali kedua ia terjebak dalam insiden penembakan yang menargetkan Trump dalam waktu kurang dari dua tahun. Ia merefleksikan betapa seringnya kekerasan bersenjata terjadi dalam acara-acara politik di Amerika Serikat.

"Pikiran Anda mulai membayangkan apa yang mungkin terjadi. Dan berapa banyak kejadian seperti ini yang harus Anda lalui di negara ini sebelum keberuntungan Anda habis," pungkasnya emosional.

Pihak berwenang kini tengah menginvestigasi bagaimana pelaku bisa membawa senjata masuk ke area hotel, di tengah pengakuan para tamu mengenai lemahnya protokol pengamanan di lokasi bersejarah tersebut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya