Uni Eropa Sahkan Paket Sanksi Ke-20 Rusia, Terminal Karimun Termasuk

Media Indonesia
24/4/2026 07:55
Uni Eropa Sahkan Paket Sanksi Ke-20 Rusia, Terminal Karimun Termasuk
Ilustrasi.(Freepik)

UNI Eropa (UE) resmi mengumumkan adopsi paket sanksi ke-20 terhadap Rusia pada Kamis (23/4). Langkah terbaru ini memperkenalkan serangkaian pembatasan ketat yang menargetkan sektor energi, keuangan, perdagangan, pertahanan, serta memperkuat mekanisme antipenghindaran bea masuk guna menekan pendanaan perang Kremlin.

Paket sanksi ini mencakup 36 daftar baru di sektor energi Rusia, yang meliputi kegiatan hulu hingga hilir seperti eksplorasi minyak, ekstraksi, penyulingan, hingga transportasi. Langkah ini bertujuan mempersempit ruang gerak pendapatan Rusia dari komoditas energi utama mereka.

Terminal Minyak Karimun Masuk Daftar Hitam

Salah satu poin krusial dalam paket sanksi kali ini yaitu dimasukkan sejumlah lokasi strategis yang dianggap memfasilitasi penghindaran sanksi. Dua pelabuhan Rusia, yakni Murmansk dan Tuapse, resmi masuk dalam daftar. Secara mengejutkan, Terminal Minyak Karimun di Indonesia juga turut dicantumkan karena dinilai terkait dengan aktivitas penghindaran sanksi internasional.

Penghindaran sanksi didefinisikan sebagai upaya sengaja untuk mengelabui pembatasan hukum melalui penggunaan perusahaan fiktif, dokumen palsu, pengalihan barang via negara ketiga, hingga transaksi keuangan menipu untuk menghindari pembekuan aset atau larangan perdagangan.

Eskalasi Terhadap Armada Bayangan:

UE memperluas tindakan terhadap armada kapal tanker rahasia Rusia dengan menambah 46 kapal dan entitas baru. Saat ini, total terdapat 632 kapal yang dikenai larangan akses pelabuhan dan pembatasan layanan di wilayah Uni Eropa.

Sektor Keuangan dan Perdagangan Diperketat

Di sektor perbankan, UE memperketat pembatasan terhadap 20 bank Rusia tambahan, sehingga total kini terdapat 70 bank Rusia yang dilarang beroperasi di pasar Uni Eropa. Selain itu, larangan penuh diberlakukan pada transaksi dengan penyedia layanan aset kripto Rusia, termasuk pembatasan terhadap rubel digital yang tengah diusulkan Moskow.

Dari sisi perdagangan, sanksi baru ini mencakup:

  • Larangan Ekspor: Barang senilai lebih dari 365 juta euro (sekitar Rp7,3 triliun).
  • Pembatasan Impor: Logam, bahan kimia, dan mineral senilai lebih dari 530 juta euro (sekitar Rp10,7 triliun).
  • Industri Militer: Penambahan 58 perusahaan terkait militer, termasuk pemasok dari Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Kazakhstan.

Mekanisme Antipenghindaran Pertama

Untuk pertama kali, UE mengaktifkan mekanisme antipenghindaran khusus akibat kekhawatiran ekspor ulang barang sensitif melalui Kyrgyzstan. Fokus utama mekanisme ini adalah mencegah komponen yang digunakan dalam produksi drone dan rudal jatuh ke tangan Rusia.

Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menegaskan bahwa tekanan ekonomi ini tidak akan kendur. "Perang ekonomi Rusia semakin tertekan, sementara Ukraina mendapatkan dorongan besar. Kami harus terus memberikan tekanan ini sampai Putin memahami bahwa perangnya tidak akan ke mana-mana," tegasnya.

Adopsi paket ke-20 ini sempat tertunda akibat perbedaan pendapat internal, terutama dari Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban. Namun, seiring dengan transisi kepemimpinan di Budapest, keberatan tersebut berhasil diatasi, membuka jalan bagi pemberlakuan sanksi yang mencakup 120 daftar baru, terdiri dari 33 individu dan 83 entitas.

Indonesia Dapat Minyak Rusia

Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa Indonesia telah berhasil mengamankan komitmen pasokan minyak mentah (crude oil) sebesar 150 juta barel dari Rusia. Kesepakatan strategis ini diperoleh dengan harga khusus sebagai hasil nyata dari kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Moskow baru-baru ini.

"Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi," ujar Hashim dalam acara Economic Briefing 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4).

Hashim menjelaskan bahwa kesepakatan besar ini merupakan buah dari pertemuan intensif antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (13/4). Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam tersebut, kedua pemimpin membahas kerja sama strategis di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Menurut Hashim, pada tahap awal, Rusia menyetujui pengiriman segera sebanyak 100 juta barel minyak dengan harga khusus. Jika kebutuhan domestik masih meningkat, Rusia berkomitmen menambah pasokan sebesar 50 juta barel lagi sebagai cadangan energi nasional.

“Jadi beliau (Prabowo) ke Moskow bukan untuk foya-foya. Beliau ke Moskow bertemu Presiden Putin selama 3 jam dan mendapat komitmen nyata,” tegas Hashim. (Anadolu/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya