KBRI Tokyo Pantau WNI Usai Gempa dan Peringatan Tsunami di Jepang

Ferdian Ananda Majni
20/4/2026 20:05
KBRI Tokyo Pantau WNI Usai Gempa dan Peringatan Tsunami di Jepang
Petugas polisi mengarahkan mobil menjauh dari pantai pada hari Senin di Iwaki, Prefektur Fukushima.(The Yomiuri Shimbun/Japan News)

GEMPA bumi kuat berkekuatan hingga 7,4 magnitudo mengguncang Jepang, sehingga memicu peringatan tsunami di sejumlah wilayah pesisir utara dan timur laut.

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI melalui KBRI Tokyo menyatakan telah menerima informasi terkait peringatan tsunami yang berlaku di Prefektur Aomori, Iwate, dan sebagian Hokkaido setelah gempa terjadi di pesisir Sanriku pada Senin (20/4) pukul 16.52 waktu setempat.

Sejauh ini, belum ada laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak. Pihak KBRI Tokyo juga terus menjalin komunikasi dengan komunitas WNI, khususnya di wilayah Aomori dan Iwate, guna memastikan kondisi mereka.

WNI yang berada di wilayah terdampak diimbau untuk terus memantau perkembangan peringatan tsunami dan mengikuti arahan otoritas setempat. Dalam kondisi darurat, KBRI Tokyo menyediakan layanan hotline yang dapat dihubungi melalui +81 80-3506-8612 atau +81 80-4940-7419.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi sekitar pukul 07.52 GMT dengan pusat gempa berada sekitar 71 mil dari Miyako, Iwate. Sementara itu, pemerintah Jepang mencatat kekuatan gempa sedikit lebih besar, yakni 7,5 magnitudo.

Japan Meteorological Agency kemudian mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah pesisir Pasifik, termasuk Aomori, Hokkaido, dan Iwate. Otoritas setempat segera mengimbau warga untuk menjauh dari kawasan pesisir dan mencari tempat yang lebih aman.

Laporan dari Kyodo News menyebutkan bahwa gelombang tsunami telah terdeteksi di lepas pantai Iwate dan Aomori. Ketinggian gelombang diperkirakan dapat mencapai hingga tiga meter.

Meski demikian, pihak berwenang memastikan tidak ada gangguan pada fasilitas vital. Tidak ditemukan anomali pada pembangkit nuklir di wilayah Aomori dan Miyagi.

Dampak gempa juga dirasakan pada sektor transportasi. Layanan kereta cepat yang menghubungkan Tokyo dengan Aomori untuk sementara dihentikan sebagai langkah antisipasi.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk segera mengambil langkah pengamanan, termasuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi guna menghindari risiko tsunami.

Hingga saat ini, belum terdapat laporan resmi terkait korban jiwa maupun kerusakan akibat gempa tersebut, sementara otoritas terus memantau perkembangan situasi. (Fer)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya