Indonesia dan AS Tandatangani Perjanjian Kerja Sama Pertahanan Utama

Haufan Hasyim Salengke
14/4/2026 13:25
Indonesia dan AS Tandatangani Perjanjian Kerja Sama Pertahanan Utama
Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin menandatangani buku tamu sebelum pertemuan bilateral dengan Menteri Urusan Perang AS Pete Hegseth di Pentagon, 13 April 2026.(Navy Petty Officer 1st Class Eric Brann)

HUBUNGAN pertahanan antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia memasuki babak baru yang lebih strategis. Menteri Urusan Perang Amerika Serikat Pete Hegseth menyambut Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin di Pentagon, Senin (13/4) waktu setempat, dalam pertemuan yang menandai pengumuman Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership) antara kedua negara.

Kesepakatan ini menjadi kerangka strategis baru untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang pertahanan, sekaligus menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik di tengah dinamika geopolitik global.

“Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya hubungan keamanan yang terus berkembang--serta aktif dan bertumbuh--antara Departemen Urusan Perang dan Indonesia,” kata Hegseth kepada Menhan Sjafrie, seperti dalam siaran pers yang dibagikan oleh Kedutaan Besar AS di Jakarta, Selasa. Ia juga menambahkan bahwa kedua negara saat ini melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahun.

Hegseth menegaskan bahwa kemitraan ini mencerminkan kekuatan hubungan kedua negara. “Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita … memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sjafrie menekankan pentingnya keberlanjutan kerja sama pertahanan kedua negara.

“Hari ini, kami hadir sebagai delegasi Indonesia … dengan semangat yang sangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan kita, yang harus berkelanjutan bagi generasi mendatang di Indonesia dan Amerika Serikat,” kata Sjafrie. “Kita bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional masing-masing.”

Tiga Pilar

Kemitraan ini dibangun di atas tiga pilar utama, yakni penguatan organisasi dan kapasitas militer, peningkatan pendidikan dan pelatihan profesional militer, serta kerja sama operasional.

Dalam implementasinya, kedua negara akan menjajaki berbagai inisiatif strategis, termasuk pengembangan kemampuan asimetris, teknologi pertahanan generasi berikutnya di domain maritim dan bawah laut, serta sistem otonom. Selain itu, kerja sama juga mencakup dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul guna meningkatkan kesiapan operasional.

Kedua pihak juga sepakat untuk memperluas pelatihan bersama pasukan khusus sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan militer.

Dalam pertemuan tersebut, Hegseth turut menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas dukungannya dalam pemulangan jenazah prajurit Amerika Serikat yang gugur pada Perang Dunia II.

“Saya menghargai dukungan berkelanjutan Anda dalam membantu Amerika Serikat menemukan, memulangkan, dan melindungi jenazah prajurit kami yang bertempur bersama Indonesia selama Perang Dunia II,” kata Hegseth.

Ia menambahkan bahwa kemitraan ini juga akan memperkuat peran  Defense POW/MIA Accounting Agency dalam melanjutkan misi pemulihan tersebut di wilayah Indonesia.

Baik Hegseth maupun Sjafrie sepakat bahwa kesepakatan ini menjadi titik awal baru dalam hubungan kedua negara.

“Jadi, ini adalah awal dari babak baru dan misi bersama bagi negara-negara besar kita,” ujar Hegseth.

AS dan Indonesia sendiri telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1949, tak lama setelah Indonesia meraih kemerdekaan dari Belanda, dan kini terus memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk pertahanan. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya