Dubes Iran: Tiongkok hingga Rusia Bisa Jamin Perdamaian Timur Tengah

Ferdian Ananda Majni
08/4/2026 15:57
Dubes Iran: Tiongkok hingga Rusia Bisa Jamin Perdamaian Timur Tengah
Bendera nasional Iran dan Amerika Serikat.(Anadolu)

DUTA Besar Iran untuk Beijing menyatakan bahwa sejumlah negara besar dan pihak mediator berpotensi memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan, menyusul pengumuman gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Dalam keterangannya pada Rabu (8/4), Duta Besar Iran untuk Tiongkok, Abdolreza Rahmani Fazli, menyebut bahwa kolaborasi internasional diperlukan untuk memastikan konflik tidak kembali memanas. 

"Kami berharap berbagai pihak dapat menjamin bahwa AS tidak akan melanjutkan perang," ujarnya kepada wartawan di Beijing.

Ia menambahkan bahwa peran lembaga internasional dan negara-negara berpengaruh sangat krusial dalam menjaga perdamaian. 

"Kami berharap Dewan Keamanan PBB, negara-negara besar seperti Tiongkok dan Rusia, serta negara-negara mediator seperti Pakistan dan Turki dapat bekerja sama untuk menjamin perdamaian di kawasan tersebut," kata Fazli, seperti dikutip harian South China Morning Post, Rabu (8/4).

Lebih lanjut, Fazli menekankan pentingnya jaminan konkret agar kesepakatan yang telah dicapai tidak bersifat sementara. 

"Kami berharap perang dapat berhenti dan gencatan senjata dapat berlangsung lama, dan kami juga membutuhkan jaminan yang dapat diandalkan," tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran, yang dimediasi oleh Pakistan, menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. 

Sejumlah negara pun menyambut positif langkah tersebut sebagai peluang awal menuju deeskalasi konflik.

Namun demikian, dinamika geopolitik masih menunjukkan ketegangan. Pada Selasa, Tiongkok dan Rusia memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengusulkan langkah pertahanan terkoordinasi guna menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Konflik di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. 

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, meski otoritas Iran belum memperbarui data korban dalam beberapa hari terakhir.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menyasar Israel serta sejumlah negara di kawasan, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat. 

Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.

Dalam perkembangan lain, sedikitnya 13 tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka selama konflik berlangsung. (Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya