Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA tahun lalu, Peter Magyar hanyalah seorang pengagum di barisan depan saat Viktor Orban berpidato. Kini, pria berusia 45 tahun itu muncul sebagai penantang paling serius bagi sang pemimpin nasionalis dalam 16 tahun kekuasaannya di Hungaria.
Magyar, seorang konservatif yang mahir berkomunikasi di media sosial maupun di lapangan, berjanji untuk membongkar "bata demi bata" sistem politik Orban, sistem yang sebenarnya pernah ia geluti secara mendalam.
"Mereka memanggil saya 'oposisi abadi' di dalam (partai Orban) Fidesz," ungkapnya kepada AFP tak lama setelah namanya mencuat pada 2024. Momentum itu terjadi saat pemerintah diguncang skandal pengampunan presiden terhadap kaki tangan pelaku pelecehan anak.
Keberhasilan Magyar naik ke puncak jajak pendapat melalui partainya, TISZA (akronim untuk Respek dan Kebebasan), didorong oleh latar belakangnya sebagai mantan orang dalam pemerintah. Menurut Andrzej Sadecki, analis utama di Centre for Eastern Studies (OSW), posisi ini membuat kritik Magyar terdengar lebih kredibel.
"Ia terdengar lebih meyakinkan bagi beberapa pemilih Fidesz ketika mengatakan sistem tersebut membusuk dari dalam," ujar Sadecki. Ia menambahkan bahwa Magyar tampak seperti sosok Orban 20 tahun lalu, namun tanpa beban korupsi dan kesalahan masa lalu.
Lahir dari keluarga konservatif terkemuka, Magyar sudah akrab dengan politik sejak muda. Ia berteman dekat dengan Gergely Gulyas, Kepala Staf Orban saat ini, dan pernah menikah dengan Judit Varga, mantan Menteri Kehakiman era Orban.
Karier diplomatiknya di Brussel dan perannya di berbagai perusahaan negara membuatnya memahami seluk-beluk birokrasi Hungaria. Namun, skandal pengampunan di awal 2024 mengubah segalanya. Meski awalnya ia menganggap ide terjun ke politik sebagai "lelucon yang buruk", berminggu-minggu kemudian ia justru memimpin demonstrasi yang menarik puluhan ribu orang.
Veronika Kovesdi, pakar media di Universitas ELTE, menilai Magyar dipandang sebagai sosok yang "berani, berorientasi pada tindakan, dan bersedia mengambil risiko pribadi." Pesan-pesannya di media sosial berhasil beresonansi secara emosional dengan pengikutnya, yang kini melihatnya sebagai pahlawan yang berjuang demi mereka.
Magyar menjanjikan pemberantasan korupsi, perbaikan layanan publik seperti kesehatan, serta reformasi untuk mencairkan miliaran euro dana Uni Eropa yang dibekukan.
Dalam kebijakan luar negeri, ia bertekad menjadikan Hungaria sekutu NATO dan anggota Uni Eropa yang dapat diandalkan. Berbeda dengan Orban yang menjalin hubungan dekat dengan Rusia pasca-invasi ke Ukraina, Magyar bersikap lebih kritis terhadap Moskow. Meski demikian, ia tetap menolak pengiriman senjata ke Ukraina dan menentang integrasi cepat Kyiv ke Uni Eropa, namun tanpa retorika permusuhan yang biasa ditunjukkan Orban.
Di sisi lain, Magyar memiliki pandangan anti-imigrasi yang bahkan lebih ketat dari Orban, dengan janji untuk mengakhiri program pekerja tamu pemerintah.
Walaupun ada keraguan apakah ia benar-benar bisa memutuskan hubungan sepenuhnya dengan gaya kepemimpinan Orban, dukungan terus mengalir. "Pemilih sayap kiri mungkin tidak sepenuhnya puas dengan agendanya, tetapi mereka tetap mendukungnya karena ia mewakili peluang terbesar untuk perubahan," pungkas Sadecki. (AFP/Z-2)
Setelah 16 tahun berkuasa, Viktor Orban memutuskan tidak mengambil kursi parlemen usai partainya kalah telak dari partai Tisza pimpinan Peter Magyar.
Kekalahan telak Viktor Orban dalam pemilu Hungaria disambut lega Uni Eropa. Peter Magyar berjanji pulihkan demokrasi dan perbaiki hubungan dengan Brussels.
Peter Magyar dan Partai Tisza mencetak sejarah dengan mengakhiri kekuasaan Viktor Orban di Hungaria.
PM Viktor Orban gelar rapat darurat usai penemuan bahan peledak di dekat pipa gas Rusia. Oposisi tuding adanya operasi "false flag" menjelang pemilu krusial.
Viktor Orban menghadapi tantangan terberat dalam karier politiknya. Simak transformasi Hungaria di bawah kepemimpinannya dan sosok Peter Magyar yang mengancam takhtanya.
Hungaria menggelar pemilu paling sengit sejak 2010. PM Viktor Orban menghadapi tantangan berat dari oposisi Peter Magyar di tengah isu korupsi dan pengaruh Rusia.
Human Rights Watch mendesak Hungaria menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu terkait surat perintah ICC atas dugaan kejahatan perang di Gaza saat kunjungannya Sabtu ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved