Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK ada pemimpin aktif di Uni Eropa yang memegang kendali kekuasaan selama Viktor Orban. Namun, setelah 16 tahun mendominasi panggung politik Hungaria, Orban kini menghadapi tantangan paling serius dalam pemilu 12 April mendatang. Berbagai jajak pendapat menunjukkan posisi petahana terancam oleh kemunculan Péter Magyar, mantan orang dalam partai yang kini berbalik menjadi rival terkuatnya.
Sejak kembali berkuasa pada 2010, Orban telah mengubah wajah Hungaria secara drastis. Parlemen Eropa bahkan melabeli rezimnya sebagai "autokrasi elektoral hibrida". Orban sendiri menggunakan istilah "demokrasi iliberal" atau "kebebasan Kristen" untuk mendeskripsikan model pemerintahannya, sementara sekutunya di gerakan MAGA Amerika Serikat menyebutnya sebagai "konservatisme nasional".
Meskipun sering bersitegang dengan rekan-rekannya di Uni Eropa, terutama terkait pemblokiran dana bantuan untuk Ukraina, Orban memiliki jaringan sekutu internasional yang kuat. Ia dianggap sebagai mitra terkuat Vladimir Putin di Uni Eropa dan mendapat dukungan langsung dari Presiden AS Donald Trump untuk masa jabatan kelima berturut-turut.
Namun, di tingkat regional, Orban kian terisolasi. Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, bahkan sempat menyindir "Orban dan menteri luar negerinya sudah lama meninggalkan Eropa" karena kedekatan mereka dengan Moskow.
Perjalanan politik pria berusia 62 tahun ini sangat kontras dengan awal kariernya. Pada akhir 1980-an, sebagai mahasiswa hukum, Orban tampil sebagai tokoh muda pemberani yang menuntut demokrasi bebas dan penarikan pasukan Uni Soviet. Ironisnya, beasiswanya saat belajar di Oxford dulu didanai George Soros, miliarder yang kini ia jadikan musuh politik nomor satu.
Pengamat politik menilai pergeseran ideologi Orban dari liberal menjadi nasionalis anti-liberal pada akhir 90-an adalah langkah oportunisme politik untuk mengisi kekosongan di sayap kanan. Sejak memenangkan "super-mayoritas" pada 2010, ia meluncurkan lebih dari 40 "undang-undang utama" yang merombak institusi negara, sistem pemilu, hingga lanskap media agar tetap berada di bawah kendali lingkarannya.
Meski karisma pribadinya tak terbantahkan, publik Hungaria mulai menunjukkan kejenuhan. Tuduhan korupsi yang menyeret lingkaran dalamnya serta pembekuan dana miliaran euro oleh Uni Eropa akibat isu penegakan hukum mulai menggerus dukungan. Momen langka terjadi saat Orban dicemooh oleh massa dalam pidato kampanye di Gyor baru-baru ini.
Dalam kampanye pemilu kali ini, Orban kembali menggunakan narasi "perlindungan nasional" dengan menuduh lawannya ingin menyeret Hungaria ke dalam konflik Ukraina. Namun, dengan munculnya Péter Magyar yang memahami seluk-beluk mesin politik Fidesz, klaim Orban sebagai pelindung stabilitas kini menghadapi ujian sejarah yang sesungguhnya. Apakah 12 April akan menjadi akhir dari era "Orbanisme"? Rakyat Hungaria yang akan menentukan. (BBC/Z-2)
Setelah 16 tahun berkuasa, Viktor Orban memutuskan tidak mengambil kursi parlemen usai partainya kalah telak dari partai Tisza pimpinan Peter Magyar.
Kekalahan telak Viktor Orban dalam pemilu Hungaria disambut lega Uni Eropa. Peter Magyar berjanji pulihkan demokrasi dan perbaiki hubungan dengan Brussels.
Peter Magyar dan Partai Tisza mencetak sejarah dengan mengakhiri kekuasaan Viktor Orban di Hungaria.
Dulu pengagum setia, kini lawan terkuat. Simak profil Peter Magyar, tokoh konservatif yang berjanji meruntuhkan sistem politik Viktor Orban di Hungaria.
PM Viktor Orban gelar rapat darurat usai penemuan bahan peledak di dekat pipa gas Rusia. Oposisi tuding adanya operasi "false flag" menjelang pemilu krusial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved