Mengenal Hoarding Disorder: Bukan Sekadar Malas, Ini Penjelasannya

Basuki Eka Purnama
28/4/2026 10:37
Mengenal Hoarding Disorder: Bukan Sekadar Malas, Ini Penjelasannya
Ilustrasi(Freepik)

FENOMENA penghuni kontrakan atau rumah yang menimbun sampah hingga menggunung sering kali viral di media sosial dan memicu hujatan netizen. Namun, di balik tumpukan barang tersebut, terdapat kondisi medis serius yang perlu dipahami masyarakat luas.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yusuf Ryadi, MKM, menegaskan bahwa perilaku menimbun sampah tidak seharusnya langsung dicap sebagai bentuk kemalasan atau sikap abai terhadap kebersihan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan indikasi kuat dari hoarding disorder.

Apa Itu Hoarding Disorder?

Hoarding disorder adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan kesulitan kronis untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilai aslinya. Hal ini menyebabkan penumpukan barang yang memenuhi ruang hidup dan mengganggu fungsi aktivitas sehari-hari.

"Banyak individu dengan kondisi ini tetap dapat berfungsi secara sosial, sehingga lingkungan sekitar sering tidak menyadari adanya masalah hingga penumpukan sudah sangat parah," ujar dr. Yusuf.

Secara klinis, gangguan ini telah diakui secara resmi dalam sistem klasifikasi gangguan mental dunia (DSM-5) sejak tahun 2013 dan masuk dalam spektrum gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Data & Fakta Hoarding Disorder
Aspek Keterangan
Prevalensi 2–6% dari populasi umum
Klasifikasi Medis DSM-5 (2013), Spektrum Obsesif-Kompulsif
Waktu Muncul Mulai remaja/dewasa muda, terlihat jelas di usia tua
Risiko Kesehatan Gangguan pernapasan, infeksi, risiko kebakaran

Gejala dan Dampak yang Ditimbulkan

Yusuf menjelaskan bahwa diagnosis hoarding disorder tidak bisa ditegakkan hanya dengan melihat kondisi fisik ruangan yang berantakan. Diperlukan penilaian klinis mendalam terhadap pola pikir dan dorongan internal penderita.

Beberapa ciri utama yang membedakannya dengan sekadar hobi mengoleksi barang antara lain:

  • Kesulitan Membuang: Adanya keyakinan bahwa barang tersebut akan berguna di masa depan.
  • Tekanan Emosional: Muncul rasa cemas, tidak nyaman, hingga stres berat saat diminta membuang barang.
  • Disfungsi Ruang: Area utama seperti tempat tidur, dapur, atau kamar mandi tidak lagi bisa digunakan sesuai fungsinya karena tertutup barang.
  • Isolasi Sosial: Penderita cenderung menarik diri karena kondisi tempat tinggal yang tidak layak.

Langkah Penanganan dan Terapi

Penanganan gangguan ini memerlukan pendekatan terstruktur dan jangka panjang. Yusuf menyebutkan bahwa Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah metode utama untuk membantu penderita memahami pola pikir mereka dan melatih pengambilan keputusan yang rasional.

Selain terapi psikologis, dukungan lingkungan sangat krusial. Pendekatan harus dilakukan secara suportif tanpa paksaan yang ekstrem. Dalam beberapa kasus, terapi obat-obatan juga diberikan jika penderita menunjukkan gejala penyerta seperti depresi atau kecemasan akut.

"Peningkatan pemahaman masyarakat sangat diperlukan untuk mengurangi stigma. Dengan edukasi yang tepat, individu dengan kondisi ini bisa memperoleh bantuan medis yang layak sebelum dampaknya membahayakan keselamatan mereka," pungkas Yusuf. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya