Tak Lagi Pelengkap, Pencahayaan Kini Jadi Elemen Kunci dalam Desain Arsitektur Modern

Basuki Eka Purnama
24/4/2026 23:12
Tak Lagi Pelengkap, Pencahayaan Kini Jadi Elemen Kunci dalam Desain Arsitektur Modern
Ilustrasi(MI/HO)

PENCAHAYAAN dalam dunia arsitektur kini telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. Tak lagi sekadar elemen pelengkap yang dipasang di tahap akhir pembangunan, cahaya kini diposisikan sebagai bagian integral sejak awal proses perancangan. Cahaya kini bersanding sejajar dengan material, struktur, dan pengalaman manusia untuk membentuk sebuah ekologi desain yang utuh.

Semangat integrasi inilah yang menjadi napas utama dalam gelaran ARCH:ID 2026 yang mengusung tema “Skema Sintesa: Integrasi Kolaboratif Arsitektur”. Dalam ajang bergengsi ini, in-Lite LED kembali berpartisipasi untuk kedua kalinya dengan menghadirkan instalasi bertajuk “Paviliun Cahya” di ICE BSD City pada 23–26 April 2026.

Sintesa Cahaya dan Kearifan Lokal

Paviliun Cahya bukan sekadar pameran lampu, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang bagaimana cahaya membentuk ruang. Commercial Director in-Lite LED, Fransiska Darmawan, mengungkapkan bahwa konsep ini terinspirasi dari pemikiran Raden Ajeng Kartini dan diwujudkan melalui kolaborasi dengan para kreator perempuan.

“Paviliun Cahya kami rancang sebagai instalasi transisi cahaya. Di sini, cahaya tidak hanya dimaknai sebagai hasil akhir, tetapi sebuah proses yang hadir secara bertahap, dari ketiadaan menuju kehadiran,” jelas Fransiska.

Arsitek dan seniman Jessica Soekidi, sosok di balik rancangan instalasi ini, menambahkan bahwa inspirasi utama Paviliun Cahya berakar pada arsitektur vernakular Nusantara. Menurutnya, leluhur Indonesia telah lama memahami hubungan harmonis antara cahaya, ruang, dan alam, mulai dari struktur rumah panggung hingga kemegahan candi.

Pengalaman Sensorik dalam Tiga Tahap

Pengunjung yang memasuki Paviliun Cahya diajak untuk merasakan perjalanan emosional dan sensorik melalui tiga fase pencahayaan yang berbeda:

Tahap Perjalanan Deskripsi Suasana Tujuan Desain
Kegelapan Total Ketiadaan cahaya sepenuhnya. Menajamkan indera non-visual dan kesadaran ruang.
Temaram Fajar Transisi cahaya lembut dan pudar. Membangun persepsi bertahap terhadap bentuk dan material.
Ruang Terang Penuh Pencahayaan optimal dan menyeluruh. Menampilkan detail arsitektural dan kejernihan visual.

Inklusivitas dan Peran Perempuan

ARCH:ID 2026 juga menyoroti pertumbuhan peran perempuan dalam industri arsitektur. Berdasarkan data organisasi, keterlibatan perempuan terus menunjukkan tren positif menuju keseimbangan industri yang lebih inklusif.

Indikator Data Statistik
Total Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ± 27.000 orang
Jumlah Arsitek Perempuan ± 5.500 orang
Persentase Keterwakilan Perempuan Sekitar 20%

Afwina Kamal, Kurator ARCH:ID 2026, menilai bahwa cara kerja perempuan yang kolaboratif dan integratif sangat selaras dengan tema "Sintesa". Hal ini tercermin dalam bagaimana berbagai mitra industri, seperti TACO, Sandei, Viro, hingga Himalaya Abadi, bersatu dalam mewujudkan Paviliun Cahya.

Kolaborasi Material dan Teknologi

Integrasi desain tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi juga pada eksekusi material. TACO, sebagai salah satu mitra utama, mengaplikasikan berbagai produk seperti HPL, flooring, hingga panel dinding untuk memperkuat pengalaman visual di dalam paviliun.

Andika Tjandra dari TACO menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan mendorong pelaku industri untuk melihat material secara holistik. Dengan menempatkan cahaya dan material sebagai satu kesatuan sejak awal, ruang yang dihasilkan akan menjadi lebih kohesif, berkarakter, dan mampu menghadirkan pengalaman yang lebih kuat bagi penghuninya.

Melalui Paviliun Cahya, in-Lite LED membuktikan komitmen “Beyond Illumination”—bahwa cahaya bukan sekadar alat penerang, melainkan elemen puitis yang menghidupkan arsitektur dan memperkaya kualitas hidup manusia. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya