Dorong Perspektif Baru Desain Ruang Hidup Berkelanjutan

Naufal Zuhdi
28/4/2026 16:55
Dorong Perspektif Baru Desain Ruang Hidup Berkelanjutan
Ilustrasi(Dok LIXIL)

LIXIL terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi pelaku industri arsitektur dan desain melalui berbagai inisiatif kolaboratif lintas disiplin. Perusahaan menilai kualitas ruang hidup masa kini tidak lagi dapat dibangun secara terpisah, melainkan membutuhkan integrasi antara desain, riset, inovasi, serta pemahaman mendalam terhadap isu keberlanjutan.

Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia Arfindi Batubara mengatakan kolaborasi kini menjadi standar baru dalam membentuk ruang hidup yang lebih baik.

“Lanskap arsitektur harus mampu berkontribusi pada kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga pembangunan nasional. Melalui sinergi, kita dapat menghadirkan solusi yang lebih adaptif,” terang dia dikutip dari siaran pers yang diterima, Selasa (28/4).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran paviliun “OASE: Architecture in the Water Cycle” dalam ajang ARCH:ID 2026. Paviliun ini menjadi representasi kolaborasi antara arsitektur, data lingkungan, narasi visual, hingga desain lanskap yang terintegrasi.

Kolaborasi bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio menghasilkan ruang eksplorasi yang mengangkat relasi antara air, sanitasi, dan sejarah perkotaan secara edukatif.

Founder Mamostudio Adi Purnomo menjelaskan paviliun tersebut berangkat dari upaya merespons isu air dalam konteks ruang hidup. Ia menilai OASE menjadi katalisator untuk memperluas diskusi arsitektur ke ranah yang lebih partisipatif dan terbuka.

Sementara itu, peneliti Labtek Apung Novita Anggraini mengungkapkan riset yang dihadirkan dalam paviliun mencakup berbagai disiplin, mulai dari ilmu lingkungan hingga sejarah kota. Salah satu temuan yang diangkat adalah bagaimana Batavia pada masa kolonial menghadapi krisis sanitasi dan banjir yang kemudian mendorong perubahan tata kota.

Secara global, LIXIL menempatkan kesehatan dan sanitasi sebagai salah satu pilar utama. Perusahaan mencatat telah membantu meningkatkan akses sanitasi bagi lebih dari 103 juta orang, di tengah masih adanya miliaran penduduk dunia yang belum memiliki akses layak.

Selain menghadirkan instalasi pameran, LIXIL juga menggelar berbagai forum diskusi selama ARCH:ID 2026, seperti sesi “Step into the Oasis” dan “From Data to Design” yang membahas pemanfaatan data lingkungan dalam perancangan arsitektur adaptif.

Keberhasilan konsep paviliun OASE menjadikannya salah satu sorotan utama dalam pameran tersebut dan meraih penghargaan Best Booth Award.

Di sisi lain, LIXIL juga memperkuat ekosistem arsitektur melalui platform LIXIL Architecture Design Competition (LADC) dan LIXIL Design and Architecture Dialogue (LDAD) yang telah diinisiasi sejak 2019. Kedua platform ini dirancang untuk memperluas ruang dialog, eksplorasi ide, serta membangun pendekatan baru dalam praktik desain.

LADC 2026 akan mengangkat tema “Archipelago Dialogues, Architecture as a Space of Co-Creation” dan membuka pendaftaran pada Mei hingga Juli 2026, dengan melibatkan juri seperti Andra Matin dan Gregorius Supie. Sementara LDAD 2026 dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026 di Ciputra Artpreneur dengan menghadirkan pembicara internasional seperti Patrik Schumacher. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya