Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BUDAYA patriarki yang masih mengakar kuat di masyarakat Indonesia dinilai menjadi penghalang utama bagi korban kekerasan seksual untuk bersuara. Tekanan sosial dan kecenderungan menyalahkan korban (victim blaming) tidak hanya membungkam mereka, tetapi juga memperparah beban psikologis yang sudah dialami.
Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, mengungkapkan bahwa dalam struktur masyarakat patriarki, perempuan sering kali ditempatkan pada posisi yang lebih rendah. Hal ini menciptakan hambatan mental bagi mereka untuk memperjuangkan hak-haknya.
“Sering sekali stigma patriarki membuat kita merasa seperti warga kelas dua. Ketika perempuan ingin menyuarakan haknya, itu bagian dari proses perjuangan,” ujar Elvine dalam sebuah diskusi di Jakarta, dikutip Jumat (24/4).
Menurut Elvine, kuatnya stigma sosial membuat korban merasa khawatir akan penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Alih-alih mendapatkan perlindungan, korban sering kali justru mendapatkan penghakiman yang menyudutkan.
“Kenapa korban akhirnya diam? Karena stigma sosial kita kuat. Kadang sebagai korban justru dihakimi seolah-olah mereka adalah pelaku,” tambahnya.
Kondisi ini tercermin dalam data statistik yang menunjukkan tingginya angka kekerasan, namun diyakini fenomena ini hanyalah puncak gunung es karena banyak kasus yang tidak terlaporkan.
| Indikator | Data Catatan Tahunan 2025 |
|---|---|
| Total Kasus Kekerasan terhadap Perempuan | 376.529 kasus |
| Persentase Pengaduan Kekerasan Seksual | 37,51% (dari total pengaduan terverifikasi) |
| Faktor Penghambat Laporan | Stigma sosial, budaya patriarki, dan tekanan lingkungan |
Lebih lanjut, Elvine menjelaskan bahwa respons lingkungan yang menghakimi dapat memicu munculnya self stigma. Ini adalah kondisi di mana korban mulai menyerap penilaian negatif dari luar dan akhirnya menyalahkan diri sendiri atas musibah yang menimpanya.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berisiko tinggi memicu berbagai gangguan kesehatan mental yang serius, di antaranya:
Sebagai solusi, Elvine menekankan pentingnya perubahan paradigma di masyarakat. Perlindungan terhadap perempuan tidak bisa hanya mengandalkan regulasi hukum semata, tetapi harus dibarengi dengan terciptanya ruang aman yang suportif.
Edukasi mengenai konsep persetujuan (consent), empati, dan dukungan psikologis perlu diperkuat sejak dini. Dengan lingkungan yang tidak menghakimi, korban akan merasa lebih berani untuk berbicara dan mengakses bantuan medis maupun psikologis yang mereka butuhkan untuk pulih. (Ant/Z-1)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved