Menag Minta Pesantren Tetap Adaptif tanpa Tinggalkan Nilai Keislaman

Ficky Ramadhan
18/4/2026 15:41
Menag Minta Pesantren Tetap Adaptif tanpa Tinggalkan Nilai Keislaman
MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar (kiri).(Dok. Antara)

MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya pesantren untuk terus berkembang mengikuti dinamika zaman, tanpa mengabaikan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama pendidikan.

Hal tersebut disampaikan saat kunjungannya ke Pondok Pesantren Walisongo Situbondo, Jumat (17/4). Dalam kesempatan itu, Menag menyoroti peran strategis pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

Menurutnya, pesantren memiliki keunggulan karena mampu mengintegrasikan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter.

"Pesantren harus terus berkembang dan mampu menjawab tantangan zaman. Namun, nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan tidak boleh ditinggalkan," ujar Menag.

Ia menambahkan, kontribusi pesantren selama ini tidak hanya melahirkan generasi berilmu, tetapi juga membentuk pribadi yang mandiri, disiplin, serta memiliki semangat kebangsaan yang kuat.

"Di pesantren, pendidikan tidak hanya soal pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter. Inilah yang membuat pesantren memiliki kekuatan tersendiri," lanjutnya.

Dalam kunjungan tersebut, Menag juga memberikan apresiasi terhadap Pondok Pesantren Walisongo Situbondo yang dinilai berhasil menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendidikan modern. Sanad keilmuan yang terhubung dengan para ulama terdahulu disebut menjadi kekuatan dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi.

Pesantren ini diketahui mengembangkan sistem pendidikan terpadu yang mencakup jalur formal, nonformal, dan informal. Pada jalur formal tersedia jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA/MAK. Sementara itu, jalur nonformal diisi dengan pendidikan diniyah melalui Madrasah Diniyah Ula, Wustha, dan Ulya, serta program kesetaraan seperti Paket B dan Paket C.

Tak hanya itu, di tingkat pendidikan tinggi, terdapat STIQ (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an) Walisongo Situbondo yang memperkuat kajian keislaman berbasis Al-Qur’an.

Menag menilai model pendidikan yang terintegrasi tersebut menjadi bukti bahwa pesantren tetap relevan di tengah perubahan zaman.

"Pesantren memiliki keunggulan dalam membangun keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas. Ini menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan masa depan," pungkasnya.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya