Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Agama (Kemenag) menegaskan komitmen untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kemenag juga akan ikut mengawal penguatan tata kelola data untuk memastikan ketepatan sasaran MBG bagi peserta didik di madrasah dan pesantren.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi'i menegaskan bahwa Kementerian Agama memiliki basis penerima manfaat yang signifikan dalam program MBG, yakni sekitar 15,6 juta jiwa yang mencakup santri dan siswa madrasah. Karena itu, penguatan kualitas dan integrasi data menjadi langkah krusial untuk memastikan program berjalan efektif.
"Kementerian Agama 100% mendukung dan sangat membutuhkan program MBG. Ini bukan sekadar dukungan administratif, tetapi kebutuhan riil di lapangan agar peserta didik di madrasah dan pesantren memperoleh asupan gizi yang lebih baik," kata Wamenag dalam keterangannya, Jumat (24/4).
Ia menambahkan, Kemenag tengah melakukan pembenahan melalui kebijakan Satu Data Kemenag guna meningkatkan akurasi dan konsistensi data. Upaya ini sekaligus untuk memastikan sinkronisasi dengan kementerian/lembaga lain sebagai dasar perumusan kebijakan yang tepat sasaran.
"Kami sedang berproses menyatukan dan merapikan sistem data agar lebih akurat, terintegrasi, dan mudah disinergikan. Dengan data yang semakin baik, intervensi program juga akan semakin tepat," ujarnya.
Menurut Wamenag, karakteristik pendidikan keagamaan yang khas perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan. Ia menyoroti adanya irisan antara siswa madrasah dan santri pesantren, di mana sebagian besar siswa juga tinggal dan belajar dalam sistem berasrama.
"Lebih dari 30 persen siswa madrasah adalah santri yang tinggal di pesantren. Karena itu, kami mengusulkan pendekatan klasifikasi yang lebih sederhana, yakni ‘Santri’ dan ‘Non-Santri’, agar pengukuran capaian program menjadi lebih jelas dan tidak terjadi tumpang tindih," jelasnya.
Wamenag juga menekankan pentingnya pendekatan implementasi yang adaptif, terutama bagi pesantren dengan jumlah santri besar maupun yang memiliki keterbatasan sarana.
"Pesantren pada prinsipnya sangat terbuka dan membutuhkan program ini. Oleh karena itu, pendekatan yang fleksibel dan kontekstual akan sangat membantu agar program MBG dapat diimplementasikan secara optimal tanpa mengabaikan kondisi riil di lapangan," tegasnya.
Ia menambahkan, dukungan pemenuhan gizi di pesantren merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
"Pesantren memiliki peran strategis dalam pembinaan karakter dan penguatan generasi muda. Penguatan gizi bagi santri akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran dan masa depan mereka," tuturnya. (Fik/P-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved