Survei Poltracking: Program MBG Dongkrak Kepuasan Publik

Putri Rosmalia Octaviyani
18/4/2026 15:13
Survei Poltracking: Program MBG Dongkrak Kepuasan Publik
Siswa antre mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG).(Dok. MI/Ramdani)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka disebut terbukti menjadi motor utama kepuasan publik. Berdasarkan survei Poltracking Indonesia, program MBG tidak hanya meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.

Peneliti Utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan saat ini mencapai 75,1 persen. Dari angka tersebut, sebanyak 74,1 persen responden menilai keberhasilan pemerintah bertumpu pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

“Kami mendalami program prioritas MBG. Dari data ini, 88 persen publik sudah mengetahui program yang sangat populer dan fenomenal ini,” ujar Masduri dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Manfaat Langsung bagi Masyarakat

Hasil survei menunjukkan bahwa 36,5 persen publik menilai MBG sebagai program yang paling dirasakan manfaatnya secara langsung. Angka ini melampaui efektivitas program bantuan lainnya, seperti subsidi upah maupun layanan kesehatan konvensional.

Masduri menekankan bahwa MBG bukan sekadar pemberian makan siang gratis, melainkan sebuah intervensi strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Dengan penguatan pada rantai pasok lokal dan evaluasi berkelanjutan, MBG diprediksi akan terus menjadi pilar utama menuju visi Indonesia Emas 2045,” tambahnya.

Data Survei Poltracking Indonesia (April 2026):

  • Tingkat Kepercayaan Publik: 75,1%
  • Publik Menilai MBG Berhasil: 74,1%
  • Popularitas Program MBG: 88%
  • Manfaat Langsung Paling Dirasakan: 36,5%

Dampak Nyata di Sektor Pertanian

Dampak positif MBG juga dirasakan nyata oleh para petani di daerah, salah satunya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Samuel Seronadi, Ketua Kelompok Tani Bina Kasih dari Desa Kadiwano, Sumba Barat Daya, menyatakan bahwa program ini telah memberikan kepastian pasar bagi hasil tani mereka.

Sebanyak 21 petani di kelompoknya kini fokus membudidayakan sayuran seperti kacang panjang, buncis, labu jepang, dan sawi untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di wilayah mereka. Sebelumnya, para petani sering kesulitan menjual hasil panen karena pasar lokal yang tidak mampu menyerap seluruh produksi.

“Dengan adanya MBG, tanaman kami jadi laku, tidak perlu susah-susah lagi ke pasar. Dulu hasil tani yang dibawa ke pasar jumlahnya banyak tapi tidak terserap, sekarang kami justru membuka lahan baru untuk memenuhi pasokan dapur MBG,” ungkap Samuel.

Selain faktor ekonomi, Samuel juga menyoroti perbaikan gizi anak-anak di wilayah Indonesia Timur. “Kami bersyukur, anak-anak kami bisa makan teratur. Di sini, seringkali anak sekolah berangkat tanpa makan pagi, termasuk anak saya sendiri. Sekarang kondisi itu berubah,” pungkasnya. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya