Mengapa Cuaca dan Polusi Picu Migrain? Ini Penjelasannya!

Thalatie K Yani
17/4/2026 11:30
Mengapa Cuaca dan Polusi Picu Migrain? Ini Penjelasannya!
Ilustrasi(freepik)

BAGI jutaan penderita migrain, serangan nyeri sering kali terasa datang tiba-tiba tanpa pola yang jelas. Namun, sebuah studi besar terbaru dari Ben-Gurion University of the Negev yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, berhasil memetakan bagaimana faktor lingkungan secara bertahap mendorong otak melewati batas toleransi nyerinya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan tidak bekerja secara instan. Sebaliknya, polusi dan cuaca membangun "tekanan" biologis dari waktu ke waktu sebelum akhirnya memicu serangan hebat.

Akumulasi Risiko yang Tersembunyi

Menurut para peneliti, migrain muncul dari interaksi kompleks antara sensitivitas biologis seseorang dengan sinyal lingkungan. Faktor-faktor seperti polusi udara, sinar matahari, suhu, dan kelembapan memengaruhi pembuluh darah serta saraf di otak.

Dr. Ido Peles, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki dua peran berbeda dalam memicu migrain.

“Hasil ini membantu kami memahami lebih baik bagaimana dan kapan serangan migrain terjadi,” ujar Dr. Ido Peles. “Faktor jangka menengah seperti panas dan kelembapan dapat mengubah risiko serangan, sementara faktor jangka pendek seperti lonjakan tingkat polusi dapat menjadi pemicu langsung serangan tersebut.”

Paparan jangka panjang terhadap polutan seperti nitrogen dioksida terbukti meningkatkan peradangan dalam tubuh. Hal ini secara perlahan meningkatkan sensitivitas otak selama berhari-hari atau berminggu-minggu, sehingga seseorang menjadi lebih rentan terhadap serangan.

Cuaca sebagai "Pemicu Terakhir"

Jika polusi menyiapkan "landasan" serangan, maka perubahan cuaca mendadak sering kali menjadi dorongan terakhir. Studi ini menemukan bahwa tingkat nitrogen dioksida yang tinggi dan radiasi matahari yang kuat secara signifikan meningkatkan kunjungan gawat darurat terkait migrain dalam waktu hanya satu hari.

Menariknya, dampak polusi ini sangat bergantung pada iklim di sekitarnya. Misalnya, polusi udara terasa lebih menyiksa tubuh pada minggu-minggu musim panas yang panas dan kering. Sebaliknya, pada musim dingin, kelembapan tinggi justru memperparah dampak partikel halus terhadap sistem saraf.

Langkah Pencegahan di Era Perubahan Iklim

Dengan meningkatnya frekuensi gelombang panas dan badai debu akibat perubahan iklim, para ilmuwan menekankan pentingnya integrasi data lingkungan ke dalam panduan medis bagi penderita migrain.

“Ketika periode paparan risiko tinggi diprediksi dalam prakiraan cuaca, dokter dapat menyarankan pasien untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan penyaring udara, mengonsumsi obat pencegahan jangka pendek, atau mulai menggunakan obat migrain pada tanda pertama masalah untuk menangkal serangan,” tambah Dr. Peles.

Langkah sederhana seperti memantau kualitas udara melalui aplikasi dan menyesuaikan rutinitas harian saat cuaca ekstrem dapat menjadi kunci utama untuk tetap selangkah lebih maju sebelum nyeri melanda. Melalui pendekatan ini, migrain tidak lagi dianggap sebagai gangguan yang tak terduga, melainkan risiko yang bisa diantisipasi melalui kesadaran terhadap lingkungan. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya