Bahaya Vape pada Remaja: Risiko Adiksi dan Pintu Masuk Rokok Konvensional

Basuki Eka Purnama
14/4/2026 15:36
Bahaya Vape pada Remaja: Risiko Adiksi dan Pintu Masuk Rokok Konvensional
Ilustrasi(AFP/Federico Parra)

PENGGUNAAN rokok elektronik atau vape di kalangan remaja kini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan ancaman serius bagi kesehatan publik. Dewan Eksekutif Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, memperingatkan bahwa vape dapat menjadi pintu masuk utama bagi remaja untuk beralih ke rokok konvensional.

Menurut Prof. Agus, kandungan nikotin dalam cairan vape memiliki sifat adiktif yang sangat kuat. Hal ini menyebabkan pengguna, terutama di usia muda, terjebak dalam siklus ketergantungan yang sulit diputus.

"Sekitar 79,5 persen pengguna vape mengalami adiksi. Karena ketergantungan itu, mereka cenderung terus menggunakan," ujar Guru Besar FKUI tersebut.

Fenomena Dual User

Salah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah munculnya fenomena dual user atau pengguna ganda. Prof. Agus menjelaskan bahwa tingkat nikotin pada vape sering kali tidak mencukupi kebutuhan pengguna yang sudah mengalami adiksi berat. Akibatnya, mereka mencari asupan nikotin tambahan dari rokok konvensional.

Data menunjukkan bahwa sekitar 40% hingga 50% pengguna vape akhirnya menjadi dual user. Kondisi ini mematahkan anggapan bahwa vape adalah alat yang efektif untuk berhenti merokok. Sebaliknya, bagi remaja, vape justru menjadi jembatan menuju penggunaan produk tembakau yang lebih luas.

Data Dampak Penggunaan Vape

Kategori Statistik / Dampak
Tingkat Adiksi Pengguna 79,5%
Prevalensi Dual User 40% - 50%
Risiko Penyakit Akut Pneumonia, Asma, Pneumotoraks (Paru Bocor)
Cedera Paru Berat EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury)

Ancaman Kesehatan Jangka Pendek

Risiko kesehatan akibat vape ternyata tidak hanya muncul dalam jangka panjang. Dalam praktik klinisnya, Prof. Agus mulai menemukan berbagai kasus gangguan pernapasan akut pada pengguna vape dalam waktu pemakaian yang relatif singkat.

Beberapa kasus yang sering ditemukan meliputi pneumonia, asma, hingga pneumotoraks atau kondisi paru-paru bocor. Selain itu, terdapat risiko EVALI (cedera paru akut akibat vape) yang dapat menyebabkan sesak napas berat hingga memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

"Remaja melihat vape sebagai bagian dari gaya hidup modern, sehingga mudah terpengaruh untuk mencoba, lalu berlanjut karena efek adiksi," tuturnya. Ia menegaskan perlunya perhatian serius dari seluruh pihak untuk membentengi generasi muda dari jeratan ketergantungan nikotin sejak dini. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya