Waspada, Obesitas di Usia Muda Jauh Lebih Mematikan daripada Saat Tua

Thalatie K Yani
13/4/2026 12:00
Waspada, Obesitas di Usia Muda Jauh Lebih Mematikan daripada Saat Tua
Ilustrasi(freepik)

MENJAGA berat badan di masa dewasa muda ternyata jauh lebih krusial daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sebuah studi berskala besar dari Lund University, Swedia, mengungkapkan obesitas yang dimulai sejak awal masa dewasa secara signifikan meningkatkan risiko kematian dini, terutama akibat penyakit jantung dan diabetes.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 600.000 partisipan ini melacak perubahan berat badan individu antara usia 17 hingga 60 tahun. Hasilnya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: semakin lama tubuh menanggung kelebihan berat badan, semakin besar kerusakan biologis yang terjadi.

Risiko Kematian Dini Melonjak Tajam

Analisis data menunjukkan bahwa individu yang mengalami obesitas antara usia 17 hingga 29 tahun memiliki risiko kematian dini 70% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami obesitas sebelum usia 60 tahun. Sebagai catatan, obesitas didefinisikan saat Indeks Massa Tubuh (IMT) seseorang menyentuh angka 30 atau lebih.

Huyen Le, mahasiswa doktoral di Lund University sekaligus penulis pertama studi ini, menjelaskan alasan di balik tingginya risiko tersebut.

"Salah satu penjelasan mendasar mengapa orang dengan onset obesitas dini berisiko lebih besar adalah periode paparan yang lebih lama terhadap efek biologis dari kelebihan berat badan," ujar Huyen Le.

Bahkan, kenaikan berat badan yang tampak kecil pun berdampak besar. Kenaikan rata-rata 0,4 kg per tahun antara usia 17 dan 30 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dini sebesar 17% dibandingkan dengan mereka yang berat badannya tetap stabil.

Pengecualian pada Risiko Kanker Perempuan

Menariknya, pola risiko ini tidak berlaku sepenuhnya pada kasus kanker di kalangan perempuan. Berbeda dengan penyakit jantung yang sangat dipengaruhi oleh durasi obesitas, risiko kanker pada perempuan tetap sama terlepas dari kapan kenaikan berat badan tersebut terjadi.

Para peneliti menduga adanya faktor biologis lain, seperti perubahan hormonal terkait menopause, yang memainkan peran lebih besar dalam risiko kanker dan kelangsungan hidup perempuan dibandingkan sekadar durasi kelebihan berat badan.

Seruan untuk Kebijakan Publik

Studi ini dianggap sangat kredibel karena menggunakan pengukuran berat badan objektif oleh tenaga medis, bukan sekadar ingatan partisipan. Tanja Stocks, Profesor Madya Epidemiologi di Lund University, menekankan bahwa temuan ini adalah pesan penting bagi pengambil kebijakan.

"Penting untuk mengenali polanya, dan studi ini mengirimkan pesan penting kepada para pengambil keputusan dan politisi mengenai pentingnya mencegah obesitas," tegas Tanja Stocks.

Di tengah kondisi "masyarakat obesogenik" saat ini, di mana lingkungan cenderung mempermudah kenaikan berat badan, intervensi pemerintah dalam mempromosikan gaya hidup sehat di usia muda menjadi kunci utama untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di masa depan. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya