Epicor dan President University Kolaborasi Cetak Talenta Industri 4.0

Basuki Eka Purnama
07/4/2026 11:50
Epicor dan President University Kolaborasi Cetak Talenta Industri 4.0
Kolaborasi strategis antara penyedia solusi perangkat lunak global, Epicor, dengan President University.(MI/HO)

SEKTOR manufaktur terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Menanggapi hal tersebut, gelaran Hari Inovasi Manufaktur menjadi momentum krusial bagi para pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi Industri 4.0.

Salah satu langkah konkret yang diambil adalah kolaborasi strategis antara penyedia solusi perangkat lunak global, Epicor, dengan President University. Sinergi ini dirancang untuk menjawab tantangan kesenjangan talenta digital sekaligus mendukung visi pemerintah menuju Indonesia Emas.

Urgensi Transformasi di Sektor Manufaktur

Adhi Firmansyah, Channel Sales Director Southeast Asia (SEA) Epicor, mengungkapkan bahwa urgensi inovasi ini didorong oleh besarnya pengaruh sektor manufaktur terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Namun, di sisi lain, industri masih dibayangi oleh sejumlah tantangan fundamental.

“Sektor manufaktur menyumbang sekitar 18%–19% terhadap PDB Indonesia. Pemerintah saat ini sangat aktif mendorong transformasi Industri 4.0. Namun, tantangan utama yang dihadapi pelaku industri adalah sistem yang masih terpisah (siloed), keterbatasan talenta digital, serta adopsi teknologi yang masih berada pada tahap awal,” ujar Adhi.

Indikator / Aspek Data & Fakta
Kontribusi PDB Nasional Sekitar 18% – 19%
Tantangan Utama Sistem tidak terintegrasi, minim talenta digital, adopsi teknologi tahap awal
Fokus Kolaborasi Pengembangan silabus, investasi software, dan program magang global

Konsep Bootcamp: Menghubungkan Kampus dan Industri

Menjawab tantangan tersebut, President University menerapkan pendekatan progresif melalui Bootcamp Curriculum. Rektor President University, Handa S. Abidin, S.H., LL.M., Ph.D, menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang memiliki daya saing global.

“Kami ingin lulusan kami tidak hanya terserap di pasar domestik, tetapi juga internasional. Melalui konsep Bootcamp Curriculum, kami mengumpulkan permasalahan nyata dari industri, termasuk dari Epicor dan mitra-mitranya. Mahasiswa dan dosen kemudian bekerja sama mencari solusi atas tantangan tersebut,” jelas Handa.

Dalam kerja sama ini, Epicor berperan aktif dalam beberapa poin utama:

  • Pengembangan Silabus: Menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan riil industri manufaktur terkini.
  • Investasi Teknologi: Memberikan akses perangkat lunak (software) Epicor sebagai alat praktik mahasiswa.
  • Ekosistem Karier: Membuka peluang magang hingga kesempatan kerja di jaringan global, mitra, dan pelanggan Epicor.

Membangun Ekosistem yang Adaptif

Diskusi dalam Hari Inovasi Manufaktur ini juga menggarisbawahi bahwa teknologi bukan sekadar tentang kecanggihan, melainkan efektivitas integrasi. Perusahaan manufaktur dituntut untuk mampu mengadopsi teknologi yang dapat memberikan nilai tambah nyata bagi bisnis, bukan sekadar mengikuti tren.

Sinergi antara akademisi dan industri seperti yang dilakukan Epicor dan President University diharapkan menjadi cetak biru (blueprint) bagi pengembangan talenta digital di Indonesia. Dengan kolaborasi yang erat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi manufaktur yang lebih adaptif, kompetitif, dan siap berbicara di panggung global. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya