Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MENCIPTAKAN lingkungan kerja yang sehat secara mental tidak selalu harus dimulai dengan program besar atau intervensi formal. Hal paling mendasar justru berakar pada sikap sederhana: kesediaan untuk mendengar tanpa menghakimi dan memahami perbedaan sudut pandang.
Psikolog Ayu Sadewo, S.Psi., menekankan bahwa dukungan terhadap rekan kerja yang mengalami tekanan mental sebaiknya tidak diawali dengan ambisi untuk memberikan solusi cepat.
Menurutnya, banyak orang terjebak dalam kebiasaan menilai kondisi orang lain hanya berdasarkan standar pribadi atau perilaku yang tampak di permukaan saja.
Padahal, setiap individu membawa latar belakang, kapasitas mental, dan cara memaknai tekanan yang berbeda-beda.
"Dalam satu situasi yang sama, dua orang bisa merasakan hal yang berbeda. Tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah, semua bergantung pada sudut pandang masing-masing," ujar Ayu, dikutip Jumat (30/1)
Ayu, yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun di bidang psikologi, menggarisbawahi bahwa komunikasi sering kali terhambat karena adanya penilaian dini.
Alih-alih merasa didukung, seseorang sering kali merasa dikesampingkan karena pendengarnya justru sibuk menyimpulkan atau membandingkan penderitaan tersebut dengan pengalaman pribadi.
Padahal, tekanan mental kerap bersifat tidak kasat mata. Seseorang mungkin tetap terlihat produktif, bekerja dengan baik, dan berinteraksi secara normal, namun sebenarnya sedang menyimpan kelelahan emosional yang sangat berat. Dalam posisi ini, respons lingkungan menjadi krusial.
"Tujuan mendukung rekan kerja bukan untuk menjadi pemecah masalah, melainkan menjadi pendamping yang aman secara emosional," jelas Ayu.
Ia menambahkan bahwa saat seseorang merasa diterima tanpa dihakimi, mereka akan lebih mudah menyadari kondisinya sendiri dan memiliki keberanian untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Menutup paparannya, Ayu mengajak para pekerja untuk mulai membangun budaya saling peduli. Langkah ini dimulai dengan tidak meremehkan keluhan rekan sejawat dan memberikan ruang yang luas bagi mereka untuk bercerita.
Sikap terbuka ini diharapkan dapat memutus stigma negatif terhadap isu kesehatan mental di tempat kerja. Dengan menghargai perbedaan cara pandang, lingkungan kerja tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi ekosistem yang mendukung kesejahteraan psikologis setiap anggotanya. (Ant/Z-1)
Psikolog Ratih Ibrahim memperingatkan risiko PTSD pada korban kecelakaan kereta api. Simak gejala, faktor risiko, dan pentingnya penanganan dini di sini.
Penelitian terbaru mengungkap konsep 'affective tactile memory'. Ternyata, tubuh kita merekam sentuhan bermakna sebagai sensasi fisik yang membentuk rasa aman seumur hidup.
Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan pentingnya resiliensi dan dukungan keluarga bagi korban kecelakaan kereta api untuk pulih dari trauma psikologis.
Ia juga mengingatkan bahwa menghindari sepenuhnya stimulus yang berkaitan dengan trauma dalam jangka panjang dapat menghambat proses pemulihan.
Ia menjelaskan, gejala yang muncul bisa beragam, seperti perasaan cemas berlebihan, jantung berdebar saat berada di keramaian.
Masalah emosi dan perilaku pada anak usia dini kerap kali dipersepsikan sebagai fase perkembangan yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved