Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, tolok ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia kerap terpaku pada angka prestasi akademik. Namun, penelitian terbaru dari Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Neti Hernawati, menawarkan perspektif berbeda.
Neti menegaskan bahwa kesejahteraan siswa (student well-being) seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun pendidikan yang berkualitas.
Dalam disertasinya yang berjudul "Peran Motivasi Akademik dalam Memediasi Pengaruh Efikasi Diri Akademik dan Iklim Sekolah terhadap Kesejahteraan Siswa SMA di Wilayah Perdesaan Pegunungan dan Pesisir Jawa Barat", Neti menyoroti bagaimana latar belakang geografis membentuk psikologi remaja dalam belajar.
“Kesejahteraan siswa merupakan faktor penting yang selama ini kurang diteliti di Indonesia, padahal sangat berpengaruh pada perkembangan psikososial dan prestasi akademik,” ungkap Neti di Kampus UI Depok, Selasa (13/1).
Penelitian ini memfokuskan observasi pada siswa kelas XI di wilayah pegunungan dan pesisir Jawa Barat. Pemilihan kedua wilayah ini didasari oleh perbedaan karakteristik geografis, sosial, dan budaya yang mencolok, yang diduga kuat memengaruhi pengalaman pendidikan siswa.
Masyarakat pegunungan cenderung memiliki komunitas yang homogen dengan ikatan sosial yang kuat dan pola hidup stabil. Sebaliknya, wilayah pesisir dicirikan oleh mobilitas sosial yang tinggi, interaksi yang dinamis, serta tantangan ekonomi dan lingkungan yang lebih kompleks.
Hasil penelitian menunjukkan fakta menarik: Siswa di wilayah pegunungan merasa lebih sejahtera dan menilai suasana sekolah mereka lebih positif dibandingkan siswa di pesisir.
Perbedaan ini diduga berkaitan dengan pandangan siswa pegunungan yang melihat pendidikan sebagai sarana vital untuk meningkatkan taraf hidup mereka di masa depan.
Meskipun terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan, penelitian menemukan bahwa efikasi diri akademik (keyakinan akan kemampuan diri) dan motivasi akademik siswa di kedua wilayah relatif sama. Namun, cara faktor-faktor ini bekerja memiliki pola yang unik:
Motivasi sebagai Jembatan: Efikasi diri akademik tidak secara langsung menentukan kesejahteraan siswa. Kepercayaan diri tersebut baru akan berdampak pada kebahagiaan siswa jika mereka memiliki motivasi akademik yang kuat.
Pentingnya Lingkungan: Iklim sekolah yang kondusif terbukti menjadi faktor penentu yang meningkatkan kesejahteraan siswa, baik di gunung maupun di pantai.
Kekuatan Motivasi di Pegunungan: Peran motivasi akademik dalam menjembatani rasa percaya diri terhadap kesejahteraan ditemukan lebih kuat pada siswa di wilayah pegunungan.
Penelitian ini memberikan wawasan bagi para pemangku kebijakan pendidikan bahwa intervensi untuk meningkatkan kualitas sekolah tidak bisa disamaratakan.
Memahami konteks geografis dan memperkuat motivasi internal siswa adalah kunci untuk menciptakan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga bahagia dalam proses belajarnya. (Ant/Z-1)
Penelitian terbaru menunjukkan pembelajaran sosial-emosional (SEL) di sekolah mampu meningkatkan nilai matematika dan membaca siswa hingga 8,4%.
Mendikdasmen menegaskan komitmennya dalam menjaga pelaksanaan TKA agar tetap kredibel, transparan, dan berintegritas di seluruh wilayah Indonesia.
WIC Jakarta sukses gelar Konferensi Biennial WCI ke-17. Fokus pada pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan pelestarian warisan budaya di era transformasi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengatasi kendala tersebut agar tidak terjadi di tahun berikutnya.
Dalam konteks ini, pendidikan vokasi seharusnya menjadi solusi strategis. Namun untuk memahami bagaimana seharusnya vokasi berfungsi, kita perlu melihat praktik terbaik global.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan komitmennya melakukan perbaikan besar-besaran sektor pendidikan, mulai dari renovasi fisik sekolah hingga penguatan kualitas pembelajaran.
President University mengukuhkan tiga Guru Besar baru: Prof. Anton Wachidin, Prof. Erwin Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar untuk perkuat riset nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved