Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RESTLESS Legs Syndrome (RLS) atau sindrom kaki gelisah merupakan gangguan tidur neurologis yang ditandai dengan dorongan kuat untuk menggerakkan kaki secara tidak terkendali, terutama pada malam hari. Kondisi ini sering membuat penderitanya sulit tidur nyenyak dan mengalami kelelahan kronis.
Sementara itu, penyakit Parkinson (PD) adalah gangguan neurodegeneratif progresif yang menyebabkan tremor, kekakuan otot, serta perlambatan gerakan.
Kedua kondisi ini sama-sama berkaitan dengan gangguan sistem dopamin di otak. Namun, selama ini hubungan sebab-akibat antara RLS dan Parkinson masih belum jelas.
Penelitian terbaru dari Korea Selatan kini memberikan penemuan baru mengenai kaitan tersebut.
Tim peneliti gabungan dari Korea University Ansan Hospital, Pohang Stroke and Spine Hospital, serta National Health Insurance Service Ilsan Hospital melakukan studi berskala besar untuk meneliti hubungan antara RLS dan Parkinson.
Penelitian ini dipublikasikan secara daring dalam jurnal JAMA Network Open Volume 8, Edisi 10 pada 6 Oktober 2025, dan dipimpin oleh Profesor Jong Hun Kim dari Departemen Neurologi Korea University Ansan Hospital.
Para peneliti menganalisis data dari Korean National Health Insurance Service Sample Cohort periode 2002–2019. Sebanyak 9.919 orang dengan RLS dibandingkan dengan 9.919 orang tanpa RLS sebagai kelompok kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama masa tindak lanjut rata-rata 15 tahun, penyakit Parkinson muncul pada:
Angka ini menjelaskan bahwa penderita RLS memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Namun, perbedaan risiko menjadi lebih jelas ketika dilihat dari status pengobatan RLS.
Peneliti menemukan bahwa:
Terapi DA sendiri merupakan pengobatan yang biasa digunakan untuk meredakan gejala RLS dengan menstimulasi sistem dopamin di otak.
Menurut Profesor Jong Hun Kim, temuan ini menunjukkan adanya “heterogenitas dalam RLS,” artinya tidak semua kasus RLS memiliki karakteristik yang sama.
Salah satu interpretasi yang mungkin adalah bahwa RLS dapat menjadi penanda klinis awal Parkinson, terutama pada pasien yang tidak mendapatkan pengobatan. Dengan kata lain, pada sebagian orang, gejala RLS bisa muncul sebelum Parkinson berkembang sepenuhnya.
Dalam kutipannya, profesor Kim juga menekankan pentingnya mengenali dan menangani RLS sejak dini.
“Pola ini menegaskan bahwa pengenalan dan penanganan RLS sangat penting. Pemantauan dan pengobatan RLS tidak hanya membantu meningkatkan kualitas tidur, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan saraf dalam jangka panjang,” ujarnya.
Para peneliti juga menyoroti bahwa hubungan antara RLS dan Parkinson tidak hanya melibatkan gangguan dopamin. Faktor lain yang diduga berperan meliputi:
Efek protektif dari terapi DA bisa mencerminkan adanya mekanisme perlindungan saraf atau hasil dari diagnosis RLS yang lebih akurat, sehingga membedakannya dari gejala awal Parkinson.
Untuk memastikan hasil penelitian lebih valid, tim peneliti menggunakan metode target-trial emulation, yaitu pendekatan analisis lanjutan yang dirancang untuk mengurangi bias dalam studi observasional.
Pendekatan ini memperkuat dugaan bahwa hubungan antara RLS dan Parkinson bersifat biologis, bukan sekadar tumpang tindih gejala semata. (News Medical Life Science/Z-1)
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengatakan penyakit parkinson merupakan salah satu penyakit yang mencerminkan realitas penuaan masyarakat dan meningkatnya beban penyakit degeneratif.
Ilmuwan temukan 'katup' pelimpah dalam sel yang mengatur tingkat keasaman lisosom. Kerusakan pada sistem ini menjadi kunci pemicu penyakit Parkinson.
Studi terbaru UCLA Health ungkap hubungan klorpirifos dengan Parkinson. Paparan jangka panjang tingkatkan risiko 2,5 kali lipat dan merusak sel otak.
Penelitian terbaru menemukan perbedaan kadar logam pada rambut pasien Parkinson yang berpotensi menjadi biomarker non-invasif untuk membantu deteksi dini penyakit ini.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Ilmuwan Case Western Reserve temukan senyawa CS2 yang mampu menghentikan kerusakan sel otak penyebab Parkinson. Harapan baru bagi 1 juta pasien.
NEXT Indonesia Center menyampaikan hasil riset dugaan praktik misinvoicing atau selisih pencatatan kepabeanan dalam kegiatan ekspor batu bara.
ASOSIASI Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) mendorong penguatan peran dosen sebagai otoritas akademik melalui pengembangan riset orisinal yang berdampak.
Riset terbaru mengungkap 74,6% konsumen Indonesia menggunakan AI untuk cari produk. Simak fenomena Silver Surfer Paradox dan dampaknya bagi bisnis.
BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.
Riset Kaspersky mengungkap 90% Gen Z dan Milenial pilih simpan data digital. Simak tren penyimpanan data di Indonesia dan tips keamanan siber terbaru.
Saat ini setiap tahunnya hanya sekitar 1 juta dari 9 juta lebih siswa SMA yang lulus berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved